Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan pentingnya keterlibatan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam pemantauan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka diharapkan rajin berkunjung ke sekolah-sekolah penerima manfaat agar dapat mengumpulkan data yang akurat serta memastikan kualitas program berjalan dengan baik.
Dalam rangka evaluasi program, kunjungan langsung ke lapangan menjadi sarana penting untuk mendata realitas penerima manfaat. Selain itu, hal ini memungkinkan Kepala SPPG untuk berkoordinasi lebih erat dengan para guru, agar informasi yang diperoleh lebih komprehensif dan mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
Nanik menyampaikan pandangan ini dalam acara Koordinasi dan Evaluasi yang melibatkan berbagai pihak di Kabupaten Banyuwangi. Ia juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antara semua stakeholder untuk memastikan program gizi mendapatkan perhatian dan pengawasan yang memadai.
Pentingnya Kunjungan Langsung untuk Mengumpulkan Data Akurat
Kunjungan langsung oleh Kepala SPPG di sekolah-sekolah memberikan kesempatan bagi mereka untuk melihat kondisi nyata yang dialami oleh peserta didik. Melalui interaksi dengan siswa dan guru, mereka dapat memahami tantangan yang dihadapi dalam implementasi program MBG. Data yang akurat sangat penting untuk mengoptimalkan pembagian sumber daya dan anggaran yang ada.
Di samping itu, pemantauan ini juga bertujuan untuk mencegah kemungkinan penyalahgunaan alokasi anggaran yang seharusnya dimanfaatkan untuk program gizi. Dengan sering berkunjung, Kepala SPPG dapat memperoleh gambaran lebih jelas tentang bagaimana program MBG diterapkan di tiap sekolah.
Accesibility menjadi isu penting, terutama mengingat jarak yang tidak jauh antara SPPG dan sekolah-sekolah penerima manfaat. Oleh karena itu, mantan siswa-siswa itu tidak semestinya terabaikan karena kurangnya perhatian dan kunjungan. Keterlibatan yang aktif di lapangan dapat membantu memahami situasi yang terjadi dan mengambil keputusan yang lebih tepat.
Dampak Berita Viral dan Akibatnya Terhadap BGN
Beredarnya informasi tentang SDN 1 Batuporo Timur yang merupakan sekolah kosong menjadi sorotan publik yang mengkhawatirkan. Dalam video viral tersebut, dinyatakan bahwa sekolah tersebut menerima jatah MBG meskipun tidak ada aktivitas belajar mengajar. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas dan akuntabilitas program MBG di tingkat sekolah.
Berdasarkan temuan awal, jumlah siswa yang terdaftar di sekolah tersebut tidak mencerminkan jumlah porsi MBG yang diterima. Kejadian ini bukan hanya memicu keprihatinan, tetapi juga menjadi alasan bagi pihak BGN untuk mengevaluasi lebih lanjut pelaksanaan program di lapangan. Video ini memberi gambaran betapa pentingnya pengawasan dan pengecekan berkala untuk mencegah penyaluran yang tidak tepat.
Seiring dengan viralnya berita tersebut, muncul pandangan negatif terhadap kinerja BGN, terutama dalam hal pengumpulan data. Menghadapi situasi ini, BGN ingin memastikan bahwa setiap sekolah mendapatkan pendampingan yang cukup. Tanpa upaya yang sistematis, program Makan Bergizi Gratis berisiko kehilangan kredibilitas di mata publik.
Mencegah Terulangnya Kasus Serupa Melalui Monitoring yang Lebih Ketat
Nanik menekankan pentingnya peran Kepala SPPG dalam memonitor kondisi di setiap sekolah demi mencegah berulangnya kasus yang mirip dengan SDN 1 Batuporo Timur. Prosedur pengecekan yang rutin diharapkan akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas program. Dengan demikian, data yang diperoleh dapat dipercaya dan mencerminkan kondisi sebenarnya.
Ia mengajak setiap pengelola gizi untuk menjadikan monitoring sebagai kewajiban, bukan sekadar rutinitas. Setiap kunjungan perlu didokumentasikan dengan baik agar memiliki catatan riwayat yang bisa menjadi acuan bagi evaluasi dan pengambilan keputusan. Pendekatan ini tidak hanya akan meningkatkan efektivitas program, tetapi juga memberikan rasa bertanggung jawab kepada semua pihak.
Dengan langkah-langkah yang lebih proaktif, diharapkan program Makan Bergizi Gratis akan lebih terarah dan berdampak positif bagi anak-anak. Ini bisa menjadi momentum bagi BGN untuk memperbaiki dan memperkuat pelaksanaan program gizi di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Sebuah kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk keberlanjutan program ini.















