Jakarta sedang menghadapi perubahan signifikan dalam kepemimpinan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, Daryono, telah mengundurkan diri dan memilih untuk pensiun dini setelah mengumumkan kondisi kesehatannya yang memerlukan perawatan lebih lanjut.
Pengumuman ini disampaikan oleh Daryono melalui grup komunikasi informasi gempa di Jakarta, dan menunjukkan langkah yang signifikan dalam perjalanan karir profesionalnya. Ketika melangkah mundur, ia mengajak masyarakat untuk tidak mencantumkan afiliasinya dalam pemberitaan media.
Perjalanan Karir dan Dedikasi Daryono dalam Mitigasi Bencana
Daryono lahir di Semarang pada 21 Februari 1971, dan selama bertahun-tahun telah dikenal sebagai salah satu ahli terkemuka di bidang kebencanaan. Ia memiliki spesialisasi mendalam dalam pengelolaan risiko gempa bumi dan tsunami, serta berkontribusi dalam sistem mitigasi bencana di Indonesia.
Sebagai seorang ahli, Daryono telah aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pemahaman publik mengenai risiko bencana. Keahliannya tidak hanya terbatas dalam institusi, tetapi juga meluas melalui berbagai media sebagai narasumber terpercaya.
Kompetensinya dalam bidang ini membuatnya menjadi sosok penting dalam komunitas kebencanaan, menjembatani antara pengetahuan teknis dan pemahaman masyarakat. Ini terlihat dari cara ia menyampaikan informasi yang jelas dan mudah dipahami oleh publik.
Pendidikan dan Latar Belakang Akademik yang Mengagumkan
Daryono menjalani pendidikan tinggi yang luar biasa, dimulai dari gelar Doktor (S3) dalam Geografi dengan fokus pada mitigasi bencana dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2011. Latar belakang akademiknya mencerminkan komitmennya dalam memahami bencana secara komprehensif.
Sebelumnya, ia meraih gelar Magister Sains (S2) sesuai program studi yang berfokus pada pertanian lahan kering dan iklim dari Universitas Udayana pada tahun 2002. Gelar Sarjana Sains (S1) di Meteorologi dan Geofisika juga menjadi bagian dari perjalanan akademisnya, yang diselesaikan di Universitas Indonesia pada tahun 2000.
Selain itu, Daryono memulai langkah akademisnya dengan mengambil Diploma III dari Akademi Meteorologi dan Geofisika di Jakarta pada tahun 1994. Pendidikan yang beragam ini telah membekalinya dengan pengetahuan dan keterampilan yang mendalam terkait fenomena alam bencana.
Pensiun Dini dan Harapan Masa Depan di Bidang Kebencanaan
Niat pensiun dini Daryono menandai akhir dari sebuah era bagi BMKG, terutama di sektor gempa bumi dan tsunami. Ia mengambil keputusan ini setelah menjalani perawatan medis akibat kondisi kesehatan yang memengaruhi penglihatannya, yaitu distrofi kornea.
Keputusan tersebut mengundang perhatian luas, tidak hanya dari kalangan profesional, tetapi juga masyarakat umum yang menghargai kontribusinya selama ini. Daryono menegaskan, hingga 1 Mei 2026, ia akan tetap berstatus sebagai pegawai aktif di BMKG.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun Daryono akan pensiun, kontribusinya dalam bidang kebencanaan tidak akan terlupakan. Pengalamannya akan terus menginspirasi para generasi mendatang yang berkecimpung di bidang mitigasi bencana dan kebijakan publik.













