Perbedaan tanggal penetapan awal Ramadan seringkali menjadi topik yang hangat diperbincangkan di kalangan umat Muslim. Pada tahun 2026, perbedaan ini akan kembali muncul ketika beberapa ormas dan pemerintah menetapkan awal bulan Ramadan yang berbeda berdasarkan metode penghitungan masing-masing.
Perbedaan utama muncul dari dua pendekatan yang digunakan, yakni metode rukyatul hilal dan hisab. Metode ini memiliki kekuatan masing-masing dalam menentukan awal bulan, yang seharusnya dihadapi dengan toleransi dan saling menghormati.
Di tengah perbedaan yang ada, penting bagi umat Muslim untuk memahami dasar dari penentuan awal bulan Ramadan. Kebersamaan dalam menjalankan ibadah puasa adalah hal yang lebih utama dari sekadar perbedaan penetapan tanggal.
Ketetapan Awal Ramadan 2026 Menurut Ormas dan Pemerintah
Muhammadiyah telah mengeluarkan keputusan awal Ramadan yang akan jatuh pada 18 Februari 2026. Dalam maklumatnya, organisasi ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal untuk menentukan hasilnya.
Sebagai tanggapan terhadap hal ini, Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan kombinasi antara rukyatul hilal dan hisab untuk memprediksi hari pertama puasa. Mereka memperkirakan 1 Ramadan 2026 jatuh pada 19 Februari, yang berbeda satu hari dari Muhammadiyah.
Pemerintah juga berusaha menyelaraskan ketetapan dengan masyarakat melalui sidang Isbat. Dalam sidang ini, pengamatan hilal menjadi hal yang sangat krusial, dan diperkirakan juga akan mendeklarasikan 1 Ramadan 2026 pada 19 Februari.
Pentingnya Menghormati Perbedaan dalam Menetapkan Awal Ramadan
Sikap saling menghormati adalah kunci dalam menyikapi perbedaan ini. Setiap ormas memiliki alasan teologis yang kuat untuk pendekatan masing-masing dalam penentuan waktu. Menghormati keputusan satu sama lain menunjukkan kedewasaan umat beragama.
Lebih jauh lagi, perbedaan ini seharusnya tidak dijadikan sebagai alasan untuk meruncingkan perpecahan. Sebaliknya, hal ini harus memberikan ruang untuk dialog dan saling pengertian di antara umat Islam.
Umat Muslim diharapkan untuk menunggu pengumuman resmi dari pemerintah atau ormas dalam menentukan awal puasa. Hal ini menjadi refleksi dari semangat ukhuwah Islamiyah, yang lebih penting daripada sekadar kepatuhan pada tanggal yang berbeda.
Relevansi Metode Hisab dan Rukyat dalam Menentukan Awal Puasa
Metode hisab yang digunakan Muhammadiyah merupakan pendekatan matematis yang telah teruji. Dengan perhitungan astronomi yang akurat, mereka dapat menentukan posisi bulan dalam siklus bulan secara tepat.
Di sisi lain, NU lebih cenderung pada metode rukyatul hilal, yang melibatkan pengamatan langsung terhadap penampakan bulan. Metode ini dianggap lebih kontekstual dan sesuai dengan tradisi umat Islam dalam menentukan awal bulan.
Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya, kondisi cuaca dapat memengaruhi pengamatan bulan, sedangkan metode hisab mungkin tidak mempertimbangkan kondisi lokal sepenuhnya.













