Pengurus Vihara Gayatri, Mastus, menyampaikan kisah menarik mengenai keberadaan Tujuh Sumur yang menjadi daya tarik spiritual di vihara tersebut. Mitos ini dimulai dari pengalaman spiritual pemilik vihara yang mendapatkan petunjuk melalui mimpi saat berziarah ke Goa Ciremai di Cirebon.
“Dari mimpi tersebut, ia percaya ada mata air yang baik di sini, sebuah keajaiban yang dianggap sebagai cangkokan dari sumber air di Cirebon,” lanjutnya saat berbincang di Vihara Gayatri, Cilangkap, Tapos, Kota Depok. Sejak saat itu, area ini menjadi tempat yang penting bagi orang-orang yang mencari harapan dan keajaiban dalam hidup mereka.
Dalam tradisi yang ada, nama Tujuh Sumur diambil dari tokoh spiritual lainnya. “Suhu Syahoki dari Borobudur adalah sosok yang memberi nama pada sumur-sumur ini,” jelas Mastus. Ini Menandakan pentingnya koneksi antara tempat-tempat suci dalam budaya spiritual masyarakat.
Ritual Mandi dan Persiapannya di Tujuh Sumur
Bagi pengunjung yang ingin berpartisipasi dalam ritual mandi, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan. Salah satunya adalah membawa pakaian ganti, mengingat area mandi bersifat terbuka dan memerlukan kesopanan dalam berpakaian.
“Saat mandi, pengunjung disarankan untuk melemparkan uang logam ke setiap sumur. Itu adalah bagian dari tradisi yang dianggap membawa berkah,” ungkap Mastus. Setiap sumur biasanya diisi dengan lima koin sebagai simbol harapan dan niat yang tulus.
“Uang logam tak harus jenis tertentu, yang penting adalah niat yang tulus saat melemparkannya,” tambahnya. Ini menunjukkan bahwa ritual bukan hanya sekadar tindakan fisik, tetapi membawa makna lebih dalam bagi pelaksananya.
Peranan Niat dalam Ritual Mandiri
Mastus kemudian menjelaskan bahwa niat merupakan bagian yang sangat krusial dalam menjalani ritual. “Setiap sumur memerlukan tujuh gayung air untuk dituangkan, dan tujuannya tergantung pada keinginan masing-masing individu.” Dengan kata lain, kepercayaan dan harapan seseorang berperan signifikan dalam proses ini.
“Misalnya, jika seseorang ingin mencari jodoh, niatnya harus jelas. Bisa juga untuk harapan rejeki atau keberuntungan,” ungkapnya. Ini menunjukkan bahwa ritual di Vihara Gayatri sangat memperhatikan aspek spiritual dan kepercayaan individu.
Waktu dan Suasana Ramainya Pengunjung
Mastus menambahkan bahwa puncak keramaian di Tujuh Sumur terjadi pada setiap malam Selasa Kliwon. “Malam ini menjadi langganan bagi banyak orang yang ingin menjalani ritual mandi,” ujarnya. Hal ini menciptakan suasana spiritual yang khas dan menambah daya pikat tempat ini.
Aktivitas ini tidak hanya sekadar mandi, tetapi juga interaksi antara pengunjung yang memiliki tujuan spiritual yang sama. “Malam Selasa Kliwon begitu ramai hingga banyak pengunjung yang tidak bisa tidur karena suasana yang hidup dan meriah,” jelasnya.
“Namun, untuk mandiri sehari-hari pun bisa dilakukan. Kami tetap menerima pengunjung, meskipun jam tutupnya adalah jam 7 malam,” tambah Mastus. Ini menunjukkan fleksibilitas vihara dalam melayani pengunjung yang memiliki berbagai macam kebutuhan spiritual.













