Di tengah hiruk-pikuk kegiatan sembahyang, Mastus menunjukkan dedikasinya sebagai pengurus vihara selama lebih dari tiga dekade. Dia tidak hanya mengelola vihara, tetapi juga menjual perlengkapan sembahyang seperti hio dan berbagai aksesoris lainnya yang diperlukan oleh umat.
Saat ditemui, Mastus terlihat sangat sibuk melayani pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Setiap pagi, sebelum keramaian dimulai, ia mempersiapkan semua perlengkapan yang diperlukan untuk ritual-ritual keagamaan.
“Sebelum ramai, pagi-pagi kita siapin ini dulu, terus dihitung hio-nya, buat dijadikan satu set,” ucap Mastus dengan penuh semangat. Aktivitas ini menunjukkan betapa pentingnya persiapan yang matang untuk menyambut umat dan menjaga kelancaran ibadah.
Pentingnya Perlengkapan Sembahyang bagi Umat
Penjualan perlengkapan sembahyang yang dikelola Mastus merupakan inisiatif pribadi pemilik vihara, bukan dari yayasan. Dalam proses pengelolaannya, Mastus memastikan bahwa semua perlengkapan yang dijual memenuhi kebutuhan umat.
“Kalau ini penjualan perlengkapan sembahyang ini dari inisiatif pribadi pemilik vihara, bukan dari yayasan,” jelasnya. Ini menunjukkan bahwa adanya kepedulian yang mendalam terhadap kebutuhan spiritual umat.
Peningkatan jumlah umat di vihara juga terlihat dari meningkatnya penggunaan lilin besar. “Ramai tahun ini, kelihatan dari pemasangan lilin 200 kati yang besar itu,” ungkap Mastus dengan penuh kebanggaan.
“Tahun kemarin cuma ada satu pasang, sekarang ada delapan,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang datang untuk berdoa dan melakukan sembahyang.
Bagi pengunjung, satu paket perlengkapan sembahyang bisa didapat dengan harga sekitar Rp 50 ribu. “Kalau untuk setiap sembahyang seperti ini, kisaran Rp 50 ribu itu udah lengkap, ada hio, lilin, kertasnya,” jelas Mastus.
Kondisi Penjualan Perlengkapan Sembahyang Pasca Pandemi
Mastus mencatat bahwa kondisi penjualan perlengkapan sembahyang tahun ini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setelah pandemi yang melanda dan membatasi kegiatan keagamaan, kini segalanya mulai kembali normal.
“Untuk penjualan tahun ini naik, bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya semenjak COVID-19 itu,” ungkapnya. Hal ini tentu memberikan harapan baru bagi pengurus vihara dan juga para umat yang ingin beribadah.
Harapan untuk tahun depan pun semakin besar. Mastus berharap semoga tahun kedepannya semakin ramai lagi. “Mudah-mudahan bisa lebih baik lagi,” tambahnya dengan wajah penuh optimisme.
Peningkatan dalam kunjungan dan penjualan membuat Mastus bersemangat untuk terus melayani umat. Dia merasa bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan spiritual banyak orang di vihara ini.
Peran Vihara dalam Komunitas dan Spiritual
Vihara bukan hanya sekadar tempat ibadah, melainkan juga pusat komunitas bagi umat yang memiliki keyakinan yang sama. Kehadiran tempat seperti ini memberikan ruang untuk berbagi rasa spiritual dan berkumpul dengan sesama umat.
Sebagai pengurus vihara, Mastus bekerja keras untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan sejuk untuk beribadah. “Ini adalah tempat yang aman dan tenang untuk berdoa,” ujarnya, menggambarkan atmosfir yang dia harapkan ada di vihara.
Dalam setiap kegiatan di vihara, Mastus dan timnya berupaya untuk membuat setiap orang merasa diterima. Dari persiapan perlengkapan sembahyang hingga pelayanan untuk umat, semuanya dilakukan dengan penuh pengabdian.
Bahkan, ada tradisi tertentu yang dipelihara untuk memperkuat rasa kebersamaan. “Kami selalu berusaha untuk menjaga tradisi dan memberikan yang terbaik bagi umat,” kata Mastus bangga.
Kesadaran akan pentingnya komunitas dan kebersamaan dalam beribadah menjadi landasan dalam setiap kegiatan vihara. Bagi Mastus, setiap senyum dan ucapan terima kasih dari umat adalah penghargaan tertinggi dari pekerjaan yang dia lakukan.













