Partai Ummat baru saja mengukuhkan kepengurusan baru untuk periode 2026-2031, menandai langkah strategis di tengah dinamika politik Indonesia. Dengan Ansufri Idrus Sambo sebagai Ketua Umum dan Heikal Safar sebagai Ketua Harian DPP, partai ini berkomitmen membawa perubahan yang signifikan dalam cara berpolitik dan berorganisasi.
Pengukuhan ini berlangsung di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, pada hari Sabtu. Dalam acara tersebut, Ansufri mengungkapkan bahwa kepengurusan baru ini merupakan amanah dari pendahulu mereka, mencakup visi dan misi yang lebih progresif.
Ia bertekad untuk mengubah pola pikir dalam partai, dari budaya menunggu menuju budaya kerja keras dan kolaborasi. Ini adalah langkah penting agar Partai Ummat bisa menjalankan perannya secara efektif dalam konteks politik nasional.
Pentingnya Budaya Kerja dalam Kepengurusan Partai Ummat
Ansufri menekankan perlunya transisi dari budaya menunggu yang selama ini dilakukan oleh anggota partai. Ke depan, ia menginginkan anggota berinisiatif dan aktif dalam mencapai tujuan organisasi.
Ia juga mengajak semua pengurus untuk meninggalkan pola pikir yang mementingkan kepentingan kelompok, dan beralih kepada kepentingan partai secara keseluruhan. Dengan demikian, kolaborasi positif dan saling mendukung diharapkan dapat menjadi pilar stabilitas partai.
Kepengurusan baru diharapkan menjadi sarana untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu dan mengedepankan budaya saling memaafkan dan saling menguatkan. Ini penting untuk menciptakan suasana yang harmonis dan produktif.
Visi dan Misi Kepengurusan Baru: Memperkuat Struktur Organisasi
Menurut Ansufri, setiap pengurus harus kembali kepada nilai dasar perjuangan partai yang menekankan pada keadilan dan solidaritas. Kesejahteraan antara pengurus pusat hingga daerah menjadi fokus utama untuk menghindari kezaliman di internal partai.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat struktur organisasi dari pusat hingga daerah agar partai dapat lolos verifikasi dalam Pemilu 2029. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan partai di masa mendatang.
Pengurus diharapkan untuk aktif dalam mengembangkan budaya musyawarah dan bekerja sama, sekaligus membangun etika kerja yang baik di antara anggota. Hal ini diasah melalui pelatihan dan program-program yang mendukung pengembangan kapabilitas kader.
Regenerasi dan Penyegaran dalam Struktur Kepengurusan
Heikal Safar, sebagai Ketua Harian DPP, menyampaikan bahwa restrukturisasi ini adalah bagian dari ikhtiar untuk memperkuat organisasi. Dia yakin dengan kepengurusan baru ini, Partai Ummat akan lebih siap menghadapi tantangan politik ke depan.
Dia menekankan bahwa regenerasi dalam kepemimpinan merupakan hal yang penting untuk menghadirkan energi baru dan memperkuat konsolidasi internal. Langkah ini diharapkan memberi dampak positif dalam upaya mewujudkan cita-cita keadilan dan kesejahteraan.
Heikal juga berencana untuk menjalin komunikasi yang lebih efektif di dalam partai, sehingga setiap keputusan dapat diimplementasikan dengan cepat dan tepat. Fokus pada advokasi kepentingan rakyat menjadi agenda utama ke depan.
Dengan kepengurusan baru ini, tujuan untuk membangun partai yang solid, adaptif, dan responsif terhadap berbagai masalah sosial dapat tercapai. Keberhasilan ini akan sangat bergantung pada kerjasama tim dan dedikasi masing-masing pengurus dalam menjalankan tugasnya.
Reformasi internal ini juga terlihat melalui pengunduran diri beberapa pengurus sebelumnya, termasuk Ridho Rahmadi sebagai Ketua Umum dan Taufik Hidayat sebagai Sekjen Partai Ummat. Penggantian ini menandakan komitmen partai untuk terus berinovasi dan memperbaiki diri.
Sekarang, dengan Ansufri Sambo sebagai pemimpin baru, harapan tinggi disematkan untuk menggerakkan Partai Ummat menuju arah yang lebih baik. Dunia politik Indonesia membutuhkan partai-partai yang berani dan inovatif dalam menghadapi tantangan zaman, dan Partai Ummat berupaya menjadi salah satunya.








