Asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, semakin intensif, memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas udara. Masyarakat setempat merasakan dampak langsung dari polusi ini, yang membuat aktivitas sehari-hari mereka terganggu dan berisiko terhadap kesehatan pernapasan.
Suteja, salah seorang warga yang tinggal di Kelurahan Sei Gohong, mengungkapkan bahwa kondisi udara di kawasan tersebut sangat memprihatinkan. Menurutnya, pada pagi dan siang, langit terlihat pekat dan menguning, serta sulit untuk bernapas.
“Situasi seperti ini sangat mengkhawatirkan,” terang Suteja. “Ini bukan hanya gangguan visual, tetapi juga berpotensi menyebabkan berbagai masalah kesehatan bagi kami.”
Dampak Kualitas Udara Terhadap Kehidupan Sehari-Hari
Dari pengamatan Suteja, kabut asap yang menyelimuti Palangka Raya sudah berlangsung selama lebih dari seminggu. Tak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga mengubah rutinitas masyarakat yang terpaksa harus beradaptasi. Anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah dan harus belajar dari rumah.
Bekerja di bidang pemasaran di sebuah resort, Suteja merasakan dampak ekonomi yang cukup besar. Kehadiran kabut asap membuat pengunjung resort berkurang drastis, yang berdampak pada pendapatan dan aktivitas bisnis.
“Sebelumnya, resort kami dikelilingi pemandangan yang indah. Sekarang, semua terlihat gersang dan suram,” ujarnya. Perubahan ini sangat mencolok dan membuatnya merasa khawatir tentang kelangsungan hidup ekonominya.
Pengalaman Warga Menghadapi Asap Kebakaran Hutan
Kondisi kabut asap membuat Suteja dan keluarga mengubah cara hidup sehari-hari. Ia menjelaskan bagaimana mereka menciptakan ruang khusus di dalam rumah yang ditutup rapat dengan plastik untuk meminimalisir paparan asap. Selain itu, untuk keluar rumah, mengenakan masker telah menjadi keharusan.
Selain masker, masyarakat juga membutuhkan bantuan logistik yang kini terhambat. Suteja menekankan bahwa kebutuhan akan masker N95, vitamin C, dan obat-obatan semakin mendesak, namun distribusi bantuan terhambat karena penutupan Bandara Tjilik Riwut.
“Situasi ini sangat sulit, dan kami sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak,” ungkapnya. Bantuan yang ada sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan warga di tengah kondisi darurat yang berkepanjangan.
Langkah-langkah Pemerintah dalam Menanggulangi Penyebaran Asap
Pemerintah telah berupaya melakukan berbagai langkah untuk menangani masalah kebakaran hutan yang terjadi di kawasan ini. Namun, meskipun banyak upaya telah dilakukan, Suteja merasa bahwa belum ada efek yang signifikan. Beberapa kali, hujan turun akibat operasi modifikasi cuaca, tetapi hujan tersebut tidak bertahan lama dan justru membuat asap semakin tebal.
Kementerian Kehutanan terus memantau situasi dengan mengumpulkan data terkait titik panas (hotspot) kebakaran. Dengan adanya 86 titik panas yang terdeteksi, pemerintah memperkuat upayanya dalam menangani kebakaran hutan di Kalimantan Tengah dan provinsi lainnya.
Melalui Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), Kementerian Kehutanan mencatat bahwa wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi fokus utama. Upaya ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi masalah kebakaran hutan yang berulang setiap tahun.
Persepsi Warga Terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan
Suteja mengungkapkan bahwa ia merasa cemas akan masa depan wilayahnya, mengingat pengalaman-pengalaman buruk dari tahun-tahun sebelumnya. Kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015 dan 2019 menjadi pelajaran pahit yang tidak ingin terulang.
Dengan kondisi langit yang semakin menguning, ia merasa khawatir bahwa tahun ini akan membentuk pola yang sama dengan tahun-tahun yang sangat parah. Menurutnya, kemampuan pemerintah dalam menangani karhutla sudah sangat terbatas, dan harapan terbesarnya adalah datangnya hujan yang bisa membantu meringankan situasi ini.
“Kita semua berharap agar bencana ini segera berakhir. Kesehatan dan kesejahteraan kami sangat tergantung pada tindakan nyata yang diambil sekarang,” ujarnya penuh harap. Masyarakat merasa sudah saatnya ada solusi permanen untuk mencegah terulangnya tragedi yang sama di masa depan.









