
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M Juhro, baru-baru ini menyampaikan pandangannya mengenai tantangan ekonomi global untuk tahun 2026. Dalam kesempatan uji kelayakan dan kepatutan yang diadakan oleh Komisi XI DPR, ia menggarisbawahi bahwa kondisi ketidakpastian ekonomi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari realitas dunia saat ini.
Solikin menegaskan bahwa fenomena ketidakpastian ini bukan sekadar masalah temporer, melainkan telah menjadi bagian dari norma baru dalam dunia perekonomian. Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakstabilan pasar, dunia kini telah bertransformasi ke tahap yang lebih kompleks.
Menurutnya, dunia sebelumnya dikenal dengan istilah VUCA, yang mengacu pada kondisi yang Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambiguous. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa kita telah memasuki era baru yang disebut TUNA, yaitu Turbulence, Uncertainty, Novelty, dan Ambiguity.
Dengan mengamati perkembangan terbaru, Solikin menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik dan disrupsi teknologi semakin meningkat. Sebelumnya, volatilitas pasar hanya terlihat sebagai fluktuasi biasa, tetapi kini telah berkembang menjadi turbulensi yang berkelanjutan dengan tingkat kebaruan yang semakin tinggi.
Dari sudut pandang Solikin, tantangan yang dihadapi oleh perekonomian global semakin kompleks dan tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, pemangku kebijakan harus memperhatikan perubahan ini dengan serius untuk merancang strategi yang efektif dan adaptif.
Mengapa Era TUNA Penting untuk Diperhatikan oleh Ekonomi Global?
Mengidentifikasi dan memahami era TUNA menjadi krusial bagi para ekonom dan pengambil kebijakan. Era ini menuntut pendekatan yang lebih cermat dalam merencanakan masa depan, terutama bagi negara berkembang. Setiap keputusan ekonomi yang diambil harus mempertimbangkan faktor ketidakpastian yang meningkat.
Dengan fokus pada Turbulence, penting bagi ekonomi untuk bersiap menghadapi gangguan yang tidak terduga. Perkembangan teknologi dan inovasi yang cepat dapat menimbulkan risiko baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya.
Selain itu, aspek Novelty menunjukkan bahwa ada kesempatan baru yang muncul di tengah krisis. Kebijakan yang adaptif dan inovatif bisa membantu dalam meraih keuntungan dari kondisi yang tak terduga ini.
Kita juga tidak bisa mengabaikan Ambiguity. Ketidakjelasan dalam situasi global memerlukan pemahaman dan analisis yang mendalam sebelum mengambil tindakan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pemimpin negara untuk melakukan proses pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Dengan semua aspek ini, penting bagi ekonomi global untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang datang dengan cepat dan tidak terduga. Negara yang mampu beradaptasi dengan baik akan memiliki keunggulan dalam meraih kestabilan ekonomi.
Strategi yang Bisa Diterapkan untuk Menghadapi Tantangan Ini
Dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh era TUNA, diperlukan strategi yang matang dan terencana. Salah satu pendekatan yang bisa diambil adalah meningkatkan kolaborasi internasional. Dengan bekerja sama, negara-negara dapat berbagi pengetahuan dan sumber daya untuk mengatasi tantangan yang ada.
Selain itu, penting untuk menjalin kemitraan antara sektor publik dan swasta. Sinergi ini bisa mendorong inovasi dan penciptaan solusi yang lebih efisien untuk mengatasi berbagai masalah ekonomi.
Investasi dalam teknologi juga menjadi salah satu langkah yang krusial. Dalam era di mana disrupsi teknologi kian melonjak, negara yang berinvestasi dalam teknologi canggih akan lebih mampu beradaptasi dan berinovasi dalam kondisi yang tidak menentu.
Di samping itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia adalah hal yang tidak kalah penting. Pendidikan yang baik dan pelatihan yang relevan akan membantu tenaga kerja siap menghadapi tantangan di masa depan.
Akhirnya, fokus pada keberlanjutan dan pertumbuhan inklusif harus menjadi bagian dari setiap strategi yang diusulkan. Kesejahteraan sosial dan ekonomi tidak bisa dipisahkan, dan keduanya harus diperhatikan secara bersamaan untuk menciptakan sistem ekonomi yang lebih resilien.
Peran Bank Indonesia dalam Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi
Bank Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas perekonomian negara, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Melalui kebijakan moneter yang adaptif, bank sentral dapat menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi dan menjaga inflasi dalam batas yang wajar.
Salah satu langkah yang diambil adalah merespons ketidakpastian dengan kebijakan suku bunga yang fleksibel. Kebijakan ini bertujuan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi sekaligus mengendalikan inflasi.
Selain itu, Bank Indonesia juga berperan dalam mengawasi sektor keuangan. Dengan menjaga stabilitas lembaga keuangan, diharapkan risiko sistemik dapat diminimalkan. Hal ini penting agar perekonomian tetap bisa tumbuh meskipun dalam situasi yang tidak menentu.
Peranan edukasi finansial juga tak bisa diabaikan. Bank Indonesia terus berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai konsep ekonomi dan keuangan. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat akan lebih mampu mengelola sumber daya mereka dalam keadaan yang sulit.
Akhirnya, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta dan masyarakat sipil, menjadi sangat krusial. Hanya dengan bersama-sama, tantangan ketidakpastian ekonomi dapat dihadapi dengan lebih efektif dan efisien.















