Pasca terjadinya bencana alam di wilayah Sumatera, PT Pertamina (Persero) bergerak cepat untuk memastikan bahwa distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) tetap berjalan normal. Kepastian ini diharapkan dapat mendukung masyarakat dalam menjalani kegiatan sehari-hari mereka tanpa kendala yang berarti.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menjelaskan bahwa di Aceh terdapat 156 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), di mana 28 di antaranya sempat terdampak akibat gangguan akses. Namun, saat ini, sekitar 97 persen dari SPBU tersebut sudah kembali beroperasi secara normal.
Sekarang, fokus Pertamina adalah memastikan keberlangsungan pasokan energi di seluruh wilayah terdampak. Arya menambahkan bahwa dari keseluruhan 131 agen LPG di Aceh, sebanyak 94 agen mengalami gangguan, namun operasional kini hampir kembali ke kondisi normal.
Pemulihan Operasional BBM dan LPG di Aceh Setelah Bencana Alam
Di Aceh, upaya pemulihan yang dilakukan Pertamina sudah menunjukkan hasil yang signifikan. Dari 406 SPBU di Sumatera Utara, hanya 63 yang terdampak, dan saat ini seluruhnya telah kembali aktif. Ini menunjukkan efektivitas langkah cepat dalam menjamin ketersediaan energi.
Sementara itu, mengenai agen LPG, 84 dari 383 agen juga sempat mengalami gangguan, tetapi sudah ada perbaikan yang cepat sehingga pasokan LPG tetap terjaga. Aktivitas pemulihan ini penting untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Arya juga menegaskan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mempercepat pemulihan. Keseriusan Pertamina dalam menjaga kestabilan pasokan energi patut diapresiasi, mengingat banyaknya tantangan yang dihadapi di lapangan.
Strategi Pertamina Mengelola Distribusi Energi di Wilayah Terdampak
Pertamina telah menerapkan berbagai strategi untuk memaksimalkan distribusi energi di daerah yang terkena dampak. Salah satu strategi tersebut adalah memantau kondisi SPBU dan agen LPG secara berkala, sehingga kendala dapat segera diatasi. Monitoring yang ketat ini membantu menjaga ketersediaan energi pada tingkat yang baik.
Sistem pelaporan juga diperbaiki untuk memahami kondisi dan kebutuhan di lapangan. Dengan cara ini, Pertamina dapat mengalokasikan sumber daya dengan lebih efisien dan cepat, sesuai dengan daerah yang paling membutuhkan. Kecepatan respons ini memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan BBM dan LPG tanpa harus mengantre terlalu lama.
Pertamina mengambil langkah antisipatif dengan menyiapkan stok cadangan energi. Hal ini sebagai langkah untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana serupa di masa depan. Manajemen yang baik dalam pengelolaan stok mempunyai peranan penting dalam menghadapi krisis energi.
Ketersediaan Stok Energi dan Keamanan Pasokan Pasca Bencana
Menurut Arya, saat ini ketersediaan stok BBM dan LPG berada dalam kondisi aman. Hal ini penting untuk memberikan kepastian kepada masyarakat, terutama mereka yang tergantung pada energi untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat harus merasa tenang mengetahui bahwa pasokan energi telah terjamin.
Dalam laporan terbaru, diketahui bahwa dari 46 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE), hanya 5 yang terkena dampak. Seluruh opsi untuk distribusi kini telah berfungsi kembali, memastikan keberlangsungan pasokan. Data ini mencerminkan kesiapan Pertamina dalam menghadapi situasi darurat.
Di Sumatera Barat, tidak ada gangguan yang dilaporkan pada distribusi energi. Semua 147 SPBU, 172 agen LPG, dan 14 SPBE beroperasi dengan kapasitas penuh. Keberhasilan ini menjadi contoh baik dalam pengelolaan energi, sehingga dapat dijadikan referensi untuk daerah lain.













