Inflasi merupakan salah satu indikator ekonomi yang penting untuk diperhatikan, terutama bagi konsumen dan pelaku bisnis. Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan bahwa inflasi tahunan pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen, angka ini menandai inflasi year-on-year tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Angka tersebut menjadi sorotan karena mencerminkan dinamika ekonomi yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga oleh kebijakan yang diterapkan sebelumnya.
Pada rilis hasil survei, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa angka inflasi ini tertinggi sejak Mei 2023. Dalam penjelasannya, ia menunjukkan bahwa inflasi Januari 2026 ini lebih banyak dipengaruhi oleh efek statistik yang dikenal sebagai low base effect, yang disebabkan oleh kebijakan diskon tarif listrik pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Ateng menjelaskan lebih lanjut mengenai low base effect ini dan bagaimana hal tersebut akan berpengaruh pada pemahaman inflasi ke depannya. Ia mengingatkan bahwa momen puncak inflasi yang tinggi tidak selalu mencerminkan trend jangka panjang, melainkan bisa jadi merupakan dampak dari situasi yang sangat spesifik.
Mengenali Efek Statistik pada Inflasi
Low base effect terjadi ketika harga barang dan jasa pada periode sebelumnya lebih rendah, sehingga saat terjadi kenaikan, persentase yang diperoleh terlihat jauh lebih besar. Dalam konteks inflasi Januari 2026, harga dari barang dan jasa dihitung dari periode sebelumnya yang dipengaruhi oleh diskon tarif listrik. Hal ini menjadi alasan utama mengapa inflasi tampak lebih tinggi di awal tahun ini.
Ketidakberlangsungan diskon tarif listrik yang diberikan pada Januari dan Februari 2025 menyebabkan dampak signifikan. Saat kebijakan tersebut tidak diberlakukan lagi, masyarakat kembali merasakan dampak kenaikan harga yang cukup drastis dibandingkan dengan tahun lalu. Inilah yang menjadi perhatian BPS dalam menganalisis situasi inflasi saat ini.
Dengan demikian, masyarakat dan pelaku pasar perlu memahami bahwa fenomena ini merupakan siklus yang mungkin akan terulang. Jika tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan harga, diperkirakan inflasi akan kembali normal setelah periode awal tahun ini berlalu, memberikan kejelasan mengenai kondisi ekonomi yang sebenarnya.
Dampak Inflasi pada Kesejahteraan Masyarakat
Inflasi yang terus meningkat dapat membawa dampak buruk bagi kesejahteraan masyarakat, terutama bagi kalangan yang berpenghasilan rendah. Ketika harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat cenderung menurun, yang mengakibatkan kualitas hidup yang lebih rendah. Oleh karena itu, pengendalian inflasi menjadi sangat krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Pemerintah juga diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegah inflasi yang berlebihan. Program-program yang diarahkan untuk menstabilkan harga, seperti bantuan sosial atau pengendalian stok barang, akan sangat membantu dalam mengurangi tekanan inflasi yang dirasakan masyarakat.
Selain itu, penting bagi semua pihak untuk saling berkolaborasi dalam mencari solusi yang efektif. Komunikasi yang baik antara pemerintah dan pelaku ekonomi merupakan langkah awal untuk mengatasi masalah inflasi yang mungkin akan datang.
Perkiraan Inflasi di Masa Mendatang
Melihat tren yang ada, BPS memproyeksikan bahwa setelah periode Januari dan Februari 2026, inflasi akan kembali normal. Namun, proyeksi ini tetap bergantung pada stabilitas harga di pasar dan tidak adanya intervensi yang signifikan dari pemerintah. Pelaku pasar diminta untuk tetap waspada dan memantau perkembangan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Pada bulan-bulan mendatang, diharapkan terjadi penurunan kembali ke rentang inflasi yang lebih stabil. ASal tidak terjadi perubahan kebijakan yang drastis, angka inflasi bisa kembali ke level yang lebih terkendali. Ini merupakan harapan bagi banyak pihak yang menginginkan ekonomi yang lebih stabil.
Dengan demikian, tantangan ke depan adalah bagaimana mengatur kebijakan yang mampu meminimalisir dampak inflasi namun tetap mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadi kunci untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.















