Perjuangan Indonesia dalam meningkatkan ketahanan energi nasional terus menjadi fokus utama. Gas bumi diharapkan dapat berperan signifikan dalam mewujudkan visi tersebut serta menjadi jembatan yang menghubungkan proses transisi menuju pencapaian Net Zero Emission pada tahun 2060.
Menurut wawancara dengan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, transisi menuju energi terbarukan memerlukan upaya yang berkesinambungan. Salah satu langkah strategisnya adalah mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan meningkatkan pemanfaatan gas bumi.
Laode menjelaskan bahwa penurunan konsumsi batu bara justru mengarah pada ketergantungan yang lebih besar terhadap gas bumi sebagai sumber energi perantara. Ini menjadikan gas bumi sebagai pilihan utama yang ideal untuk kebutuhan pembangkit listrik, sektor industri, serta sebagai bahan baku energi.
Pentingnya Gas Bumi dalam Mewujudkan Energi Bersih di Indonesia
Penerapan gas bumi sebagai energi bersih selaras dengan komitmen pemerintah untuk menanggulangi perubahan iklim. Transformasi ini tidak hanya tentang pemanfaatan energi yang lebih bersih tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon secara signifikan.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai subholding gas Pertamina, berfokus untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok. Integrasi infrastruktur gas bumi yang dilakukan PGN bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi yang lebih bersih bagi seluruh masyarakat.
Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Hery Murahmanta, menegaskan pentingnya strategi transisi energi yang diusung oleh PGN. Strategi ini mencakup tiga pilar utama yang telah dirumuskan secara sistematis untuk memastikan keberlanjutan energi di masa depan.
Tiga Pilar Strategi PGN dalam Transisi Energi
Pilar pertama, Grow, bertujuan untuk memperkuat infrastruktur gas bumi. Hal ini meliputi pengembangan jaringan transmisi dan distribusi, fasilitas regasifikasi, serta perluasan jaringan gas rumah tangga (jargas) di seluruh Indonesia.
Pilar kedua, Adapt, difokuskan pada pengembangan bisnis LNG trading dan bunkering. Ini mencakup infrastruktur upstream LNG domestik guna memberikan solusi energi yang komprehensif bagi berbagai sektor.
Adapun pilar ketiga, Step Out, merupakan langkah hilirisasi gas bumi ke sektor petrokimia serta energi hijau melalui biometan yang ramah lingkungan. Strategi ini bertujuan untuk memastikan bahwa PGN tetap unggul di segala aspek industri energi.
Peran PGN dalam Infrastruktur Energi Nasional
PGN mengelola 95% dari infrastruktur hilir gas bumi nasional. Dengan jangkauan yang meliputi 17 provinsi dan 74 kabupaten/kota, PGN berkomitmen untuk melayani kebutuhan energi yang berkelanjutan di seluruh penjuru tanah air.
Hery menambahkan bahwa ke depan, harapan akan kehadiran PGN semakin merata di seluruh wilayah Indonesia. Namun, untuk merealisasikan visi ini, kolaborasi dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan sangatlah dibutuhkan.
Pengembangan infrastruktur yang terintegrasi dan kolaboratif akan menjadi kunci untuk mencapai ketahanan energi. Dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, PGN bertekad untuk memberikan layanan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.















