Sejumlah wisatawan asing yang diwawancarai pada awal tahun 2026 memberikan tanggapan beragam mengenai kenaikan harga tiket masuk ke beberapa tempat wisata terkemuka dunia, termasuk Louvre di Paris. Meskipun beberapa menyatakan penerimaan terhadap harga baru, yang lain merasa keberatan dan menyoroti ketidakadilan yang dirasakan dalam kebijakan tersebut.
Kevin Flynn, seorang pria asal Australia yang berlibur di Paris bersama istrinya, berpendapat bahwa harga tiket tersebut masih bisa diterima. Menurutnya, biaya tiket di Paris setara dengan harga-harga di negara lain seperti Italia dan Malta, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Di sisi lain, Joohwan Tak dari Korea Selatan merasakan sebaliknya. Ia menganggap kebijakan tersebut ‘tidak adil’ serta menciptakan kesenjangan di antara pengunjung dari negara yang berbeda, menunjukkan bahwa biaya yang dibayarkan seharusnya tidak menjadi batasan untuk menikmati warisan budaya.
Bagaimana Pelancong Merespon Kebijakan Harga Baru?
Menanggapi keputusan ini, Marcia Branco, seorang wisatawan Brasil, memberikan pandangannya. Ia menyebutkan bahwa meskipun harga tiket mungkin lebih rendah di negara asalnya, situasi di Paris yang dianggap sebagai negara kaya seharusnya membuat semua pengunjung diperlakukan sama.
Hal ini menunjukkan ketidakpuasan di kalangan pengunjung yang merasa tidak adil jika dikenakan tarif tinggi hanya karena status kebangsaan mereka. Kenaikan harga tiket Louvre ini menjadi isu internasional yang menarik perhatian banyak orang lebih dari sekedar tentang biaya.
Sebagian pelancong bahkan menyatakan bahwa pengalaman berkunjung ke tempat-tempat bersejarah seharusnya tidak dipengaruhi oleh status ekonomi. Mayoritas pengunjung ingin menikmati dan menghargai seni dan budaya tanpa adanya batasan harganya.
Kenaikan Harga yang Tercatat Sejak Awal 2024
Kenaikan harga tiket Louvre juga bukan hal baru, karena sebelumnya, pada Januari 2024, biaya masuk untuk pengunjung standar juga mengalami kenaikan signifikan dari 17 euro menjadi 22 euro. Kebijakan ini menimbulkan perdebatan di kalangan pengunjung yang merasa harga seharusnya diatur lebih adil.
Tidak hanya pengunjung dari luar Eropa yang merasa terdampak, tetapi juga wisatawan lokal yang berusaha mengakses museum ini tanpa merogoh kocek terlalu dalam. Kenaikan ini mencerminkan tren peningkatan harga yang mendominasi sektor pariwisata global.
Ketidakpuasan ini didorong oleh fakta bahwa banyak wisatawan luar negeri berharap berkunjung ke Louvre sebagai bagian dari pengalaman budaya mereka selama tinggal di Eropa. Dan, naiknya harga tiket ini bisa mempengaruhi niat mereka untuk mengunjungi.
Pengaruh Kenaikan Harga Terhadap Wisatawan Internasional
Pengunjung dari negara-negara non-Uni Eropa, termasuk Amerika Serikat, menjadi bagian terbesar dari statistik pengunjung Louvre. Kenaikan harga ini berpotensi mengurangi arus wisatawan, berimbas pada pendapatan museum dan perekonomian lokal yang bergantung pada pariwisata.
Wisatawan yang sudah merencanakan perjalanan mungkin perlu menyesuaikan anggaran mereka akibat perubahan harga ini. Namun, beberapa wisatawan tetap berkomitmen untuk mengunjungi meskipun harus mengeluarkan biaya lebih, dengan harapan pengalaman yang didapat sebanding dengan investasi yang dilakukan.
Penting untuk menyoroti bahwa museum dan tempat bersejarah lainnya perlu mempertimbangkan aksesibilitas bagi semua kalangan. Kebijakan harga yang lebih inklusif dapat memperkuat citra positif dan menarik minat yang lebih besar dari pengunjung global.













