Teaser perdana “The Devil Wears Prada 2” berhasil menarik perhatian publik, terutama karena pilihan item fesyen yang ditampilkan. Trailer dimulai dengan sepatu stiletto Rockstud merah dari Valentino, yang diidentifikasi sebagai ikon mode pada tahun 2010, dan menjadi sorotan banyak pihak.
Kontroversi muncul setelah warganet berpendapat bahwa pilihan fesyen tersebut terkesan ketinggalan zaman. Di platform media sosial, banyak yang mempertanyakan sikap Miranda Priestly, karakter utama yang selalu terlihat modis dan relevan dalam dunia mode.
Salah satu pengguna di Instagram menulis, “Memberikan rockstuds waktu tayang sebanyak itu adalah sebuah pilihan.” Pendapat ini seolah menggambarkan sikap skeptis atas keputusan pemilihan fesyen tersebut, menimbulkan perdebatan di kalangan penggemar film dan moda.
Pemilihan Fesyen yang Mengundang Perdebatan di Sosial Media
Keberadaan sepatu Valentino Rockstud dalam trailer dimaknai oleh sebagian orang sebagai lambang dari ketinggalan zaman. Tanggapan di TikTok juga tidak kalah heboh, beberapa kreator mengungkapkan bahwa tren ini tak layak dipertahankan di era modern.
Namun, hal ini juga memunculkan diskusi tentang kemungkinan kebangkitan kembali tren fesyen. Tidak jarang, sesuatu yang dianggap usang bisa kembali jadi populer, terutama di kalangan penggemar mode yang selalu mencari inspirasi baru.
Julia Hobbs, editor senior di sebuah majalah fesyen ternama, mengungkapkan bahwa ada kenangan tersendiri saat membahas sepatu Rockstud. Menurutnya, saat tren sepatu vintage kembali beredar, itu bisa memicu celah untuk eksplorasi gaya yang lebih bebas.
Reaksi Beragam Terhadap Tren Fesyen Tercipta
Beberapa pihak menganggap bahwa sepatu yang dulunya populer bisa dipandang kembali sebagai pilihan berani. Kritikan terhadap Miranda Priestly justru bisa jadi sinyal bahwa audisi ulang dalam dunia fesyen menjadi sebuah keniscayaan.
Hal ini mencerminkan dinamika perubahan yang terus terjadi dalam industri fesyen. Para kreator dan penggiat mode sering kali berdiskusi tentang apa yang layak dan tidak layak untuk kembali dihadirkan ke publik.
Cara pandang terhadap mode bukan hanya sebatas tren, tetapi juga mencakup nostalgia dan eksperimen. Ini mendatangkan pesona tersendiri ketika sepatu Rockstud kembali tampil di layar lebar, menyiratkan bahwa mode tidak selalu harus hadir dalam nuansa baru.
Sepatu Rockstud dan Nostalgia yang Terbangun
Nostalgia sering kali menjadi penggerak utama dalam dunia mode. Terlepas dari kritik yang ada, banyak orang yang memiliki kenangan indah terkait sepatu Rockstud dan bagaimana mereka dipadukan dalam berbagai gaya.
Seiring dengan perubahan siklus mode, sepatu yang pernah dianggap ketinggalan zaman bisa jadi kembali dianggap sebagai simbol keberanian dan inovasi. Miranda Priestly pun dapat kembali menjadi inspirasi di hati banyak orang.
Tak bisa dipungkiri, sepatu ikonik ini mampu menggugah kembali perbincangan tentang identitas dalam dunia fesyen. Setiap generasi memiliki interpretasinya tersendiri terhadap tren masa lalu, dan hal ini menciptakan lingkaran yang menarik di industri fesyen.















