Di tengah semakin meningkatnya angka bencana alam di Indonesia, perhatian terhadap respons pemerintah dan lembaga terkait menjadi sangat penting. Salah satu individu yang merasakan dampak langsung dari lambannya penanganan ini adalah Yansen, yang mulai mengalami teror sejak Desember 2025 setelah ia mengkritisi sikap pemerintah.
Awal teror yang dialami Yansen terjadi ketika ia diminta untuk menghapus konten yang menyoroti bencana di Sumatera. Konten tersebut menunjukkan keprihatinannya terhadap penanganan bencana yang dirasa tidak memadai dan menyuarakan suara warga yang terdampak, yang pada saat itu dituduh melakukan penjarahan untuk bertahan hidup.
Dalam keterangannya, Yansen menekankan bahwa kritiknya bukanlah serangan, melainkan sebuah panggilan untuk evaluasi dan perbaikan. Ia merasa perlu menyoroti aspek-aspek yang dianggapnya tidak transparan agar pihak berwenang menyadari urgensi situasi yang dihadapi masyarakat.
Mengapa Teror dan Intimidasi Terjadi dalam Kasus Ini?
Salah satu alasan terjadinya teror adalah karena Yansen menolak permintaan untuk menghapus konten yang dianggap berbahaya oleh pelaku. Akibatnya, intimidasi semakin meningkat, dan Yansen bersama keluarganya menjadi korban dari aksi-aksi yang mengancam ketenangan mereka.
Penggunaan data pribadi keluarganya sebagai alat ancaman menambah beban psikologis yang harus mereka tanggung. Yansen merasa terjebak dalam situasi yang tidak seharusnya terjadi, di mana suara untuk menuntut keadilan justru berujung pada ancaman terhadap dirinya dan orang terdekatnya.
Proses hukum yang diupayakan menyangkut penyebaran informasi palsu dan ancaman kepada Yansen merasa sangat penting untuk dilalui. Ia berharap agar pelaku bisa diusut dan memberikan efek jera bagi siapa pun yang berani mengintimidasi orang lain secara serampangan.
Langkah-langkah yang Diambil Oleh Yansen dalam Menghadapi Teror
Yansen tidak tinggal diam dan mengambil langkah proaktif untuk melindungi diri dan keluarganya. Ia telah menyerahkan semua bukti teror, termasuk nomor-nomor telepon yang digunakan untuk mengancam dan data-data pribadi yang disebar.
Pihak berwenang mulai melakukan penyelidikan atas kasus ini setelah menerima laporan yang disertai bukti-bukti pendukung. Dalam setiap langkahnya, Yansen berharap proses hukum ini dapat menghadirkan keadilan bagi dirinya maupun orang lain yang mengalami kasus serupa.
Laporan yang diberikan kepada pihak penyidik juga mencakup rekaman ancaman yang didapatkan melalui panggilan telepon dan pesan singkat. Dengan cara ini, ia ingin agar teror semacam ini tidak terjadi lagi di masa depan, terutama bagi mereka yang voicing their concerns.
Pentingnya Advokasi Terhadap Korban Intimidasi di Media Sosial
Kasus yang dihadapi Yansen menggambarkan betapa rentannya seorang individu yang berani berbicara tentang kebenaran. Keberanian untuk mengkritisi hal yang dianggap tidak benar seharusnya didukung oleh masyarakat, bukan diintimidasi atau diteror.
Advokasi bagi korban intimidasi di media sosial sangat penting untuk diupayakan. Tanpa dukungan yang memadai, suara-suara yang kritis terhadap kebijakan publik bisa hadir dengan rasa takut, mengakibatkan terhambatnya demokrasi.
Dengan demikian, masyarakat harus berperan aktif dalam mengawal setiap bentuk intimidasi dan melindungi mereka yang berani bicara. Mendorong individu untuk menyuarakan keprihatinan mereka dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih demokratis dan terbuka bagi semua orang.















