Menteri Dalam Negeri menjelaskan bahwa untuk mengembalikan kondisi ke normalan fungsional pascabencana, diperlukan waktu sekitar dua bulan, asalkan semua pihak bekerja sama secara efisien. Normal fungsional berarti berfungsinya kembali berbagai aspek dasar kehidupan seperti pasar, sekolah, rumah sakit, dan penyediaan listrik.
“Perlu ditekankan bahwa ini berbeda dengan normal permanen. Normal permanen memerlukan waktu yang lebih lama, mungkin bisa mencapai dua tahun,” tegasnya.
Mendagri juga memberi gambaran mengenai penanganan bencana pascatsunami di Aceh, di mana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh memerlukan waktu hingga lima tahun. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas pembangunan infrastruktur permanen yang memerlukan proses yang panjang.
Proses Pemulihan dan Infrastruktur yang Diperlukan Setelah Bencana
Pembangunan fisik, terutama untuk infrastruktur seperti jembatan dan jalan, seringkali mengalami kendala yang dapat memperlambat proses pemulihan. Selain itu, banyak gedung publik yang mengalami kerusakan parah dan memerlukan waktu lebih lama untuk dibangun kembali.
“Contohnya, sekolah-sekolah yang benar-benar hancur membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki. Proses pemulihan juga menyangkut pemeliharaan saluran air dan sungai yang terseret banjir,” lanjutnya.
Selain pembangunan fisik, perhatian juga diperlukan untuk aspek sosial yang akan sangat berdampak pada masyarakat. Koordinasi antar lembaga menjadi kunci untuk memastikan bahwa semua kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi dengan cepat dan tepat.
Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor dalam Pemulihan Pasca-Bencana
Kepala Badan Pusat Statistik menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian dan lembaga dalam pembangunan data tunggal yang diperlukan untuk penyaluran bantuan. Dukungan dari berbagai pihak akan mempercepat proses pemulihan dan memastikan bantuan bersifat tepat sasaran.
“Sangat signifikan untuk memiliki dashboard data tunggal sebagai landasan penyaluran bantuan, sehingga tidak terjadi duplikasi atau kekurangan dalam pendistribusian,” ungkapnya. Penggunaan data yang akurat akan sangat mendukung pengambilan keputusan yang tepat.
Keberadaan dashboard ini juga menunjukkan bagaimana pemerintah berusaha untuk menciptakan sistem yang lebih transparan dan efisien. Hal ini bertujuan agar semua pihak, baik itu masyarakat maupun lembaga, bisa terlibat dalam proses pemulihan dengan cara yang lebih terstruktur.
Peran Data dalam Pengambilan Keputusan Pasca-Bencana
Pembangunan dashboard data tunggal menjadi instrumen krusial dalam mendukung kebijakan publik pascabencana. Data yang bisa diakses oleh semua pemangku kepentingan memastikan bahwa respons terhadap bencana dapat dilaksanakan dengan cepat dan tepat.
Menteri Dalam Negeri memaparkan bahwa dalam proses pengambilan keputusan, data sangatlah penting. Keputusan yang diambil berdasarkan data yang valid akan berdampak positif terhadap kesuksesan program pemulihan ini.
“Kami berharap dengan adanya sinkronisasi data dari berbagai lembaga, masalah penyaluran bantuan dapat diminimalisir,” tegasnya lagi. Kesadaran akan pentingnya data ini diharapkan dapat menjadikan pemulihan pascabencana lebih inklusif dan efektif.















