Kasus anak perempuan bernama C telah menarik perhatian publik, seiring dengan dugaan perundungan serta pelecehan seksual yang dialaminya. Peristiwa ini bermula ketika salah satu teman C berinisial R mengajaknya merayakan tahun baru, yang berujung pada pengalaman traumatis yang mendalam.
Menurut pengakuan orang tua C, H, perundungan verbal terhadap anaknya mulai terjadi sejak Februari 2025 dan semakin intensif pada bulan November. Kejadian ini telah meninggalkan luka psikologis yang serius bagi C, yang hingga kini masih trauma dan menunjukkan tanda-tanda kegelisahan yang tinggi.
Hingga saat ini, C terus mengalami kecemasan dan ketakutan yang membuatnya kerap menangis. Penjelasan dari H mengenai kondisi C sangat menyentuh, mencerminkan betapa dalamnya dampak perundungan ini terhadap kesehatan mental anak.
Pengalaman Trauma yang Menyeluruh dan Mengkhawatirkan
Perubahan perilaku yang terlihat pada C semakin jelas sejak perayaan tahun baru. H mulai merasakan ada yang tidak beres ketika anaknya menunjukkan ketidaknyamanan dan sulit berkomunikasi tentang apa yang ia rasakan.
Dugaan pembiusan oleh teman sekolahnya menambah beban psikologis C, yang ternyata membuatnya semakin resah. Ketika ditanya, C tidak mau berbicara dan hanya menggelengkan kepala, menandakan ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.
Bahkan, rasa gelisah yang dirasakan C kerap muncul setiap malam, membuat H sangat khawatir. Setiap kali menjemput C dari tempat belajar atau bermain, ia merasakan aura ketakutan yang membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tindakan Orang Tua untuk Memulihkan Keadaan Anak
Menyadari kondisi anak yang semakin memburuk, H mengambil keputusan untuk tidak mengizinkan C kembali ke sekolah. Ia percaya bahwa pemulihan psikologis C menjadi prioritas utama sebelum melanjutkan pendidikan.
H juga mengungkapkan tekadnya untuk melindungi C dari lingkungan yang berpotensi memperburuk kondisi mentalnya. “Belum aku bolehin ke sekolah sampai masalah selesai dulu,” tegas H, menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah ini.
Kehadiran H sebagai orang tua yang responsif sangat penting dalam proses pemulihan C. Dengan memberikan dukungan emosional dan mendengarkan keluh kesah anak, diharapkan C bisa lebih cepat mengatasi trauma yang menimpanya.
Langkah-Langkah yang Ditempuh oleh Pihak Pendidikan
Pihak Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur juga tidak tinggal diam terhadap kasus ini. Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur II, Horale, menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan pendalaman kasus dan berkoordinasi dengan dinas terkait.
Horale menekankan pentingnya pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada anak lain yang mengalami hal serupa. Upaya ini dilakukan agar kejadian ini tidak terulang di masa mendatang.
Koordinasi antar pihak pendidikan, orang tua, dan ahli psikologi sangat dibutuhkan untuk mencari solusi terbaik bagi C. Pendekatan multidisipliner dapat memberikan pemahaman serta penanganan yang lebih tepat dalam kasus-kasus serupa.















