Presiden Justice and Democracy Forum (JDF) Asia Pasifik, sekaligus Anggota DPR RI Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, menyampaikan kritik yang tajam terhadap tindakan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela. Ia menilai serangan yang bersifat sepihak ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat mengganggu stabilitas dalam hubungan internasional.
Menurut Jazuli, serangan tersebut menunjukkan ketidakpedulian terhadap kedaulatan negara lain dan menafikan mekanisme diplomasi yang sejatinya menjadi dasar dalam menciptakan perdamaian dunia. Ia menegaskan bahwa tidak ada negara yang berhak menggunakan kekuatan secara unilateral, terlebih jika didasari kepentingan politik semata.
“Serangan Amerika Serikat ke Venezuela adalah pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam PBB,” terang Jazuli. Ia menambahkan, tindakan AS ini dapat menciptakan preseden yang berbahaya bagi tatanan dunia dan bisa menyebabkan konsekuensi yang lebih luas jika dibiarkan tanpa sikap tegas dari komunitas internasional.
Venezuela, sebagai negara berdaulat, berhak untuk mempertahankan integritas teritorialnya, dan serangan oleh AS terasa lebih seperti tindakan penjajahan modern. Dengan menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, AS telah melampaui batas yang seharusnya menjadi acuan dalam interaksi antara negara.
Jazuli mengingatkan bahwa jika praktik semacam ini dibiarkan tanpa respon, akan muncul preseden buruk yang berpotensi mengganggu tatanan hukum. “Tidak boleh ada negara yang merasa di atas hukum internasional, karena jika demikian, dunia akan berada pada jalan menuju kerusuhan,” ungkapnya.
Tindakan Sepihak yang Mengancam Ketertiban Internasional
Tindakan militer sepihak Amerika Serikat bukan hanya mengganggu hubungan bilateral dengan Venezuela, tetapi juga dapat memicu ketegangan di kawasan. Jazuli menyebut bahwa ini adalah sinyal buruk bagi komunitas internasional untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip hukum yang mengatur interaksi negara.
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa jika negara-negara besar terus menerus melanggar hukum internasional tanpa konsekuensi, maka ini hanya akan menjadi ajakan bagi negara-negara lain untuk mengikuti jejak yang sama. Oleh karena itu, masyarakat internasional perlu bersikap tegas menanggapi perilaku semacam ini.
Jazuli menegaskan bahwa hukum internasional harus dihormati dan ditegakkan tanpa terkecuali. Jika para pemimpin dunia, baik dari negara besar maupun kecil, tidak lagi menghargai norma dan nilai-nilai hukum yang ada, maka bisa dipastikan bahwa hubungan antar negara akan memasuki periode yang penuh dengan konflik.
Pentingnya Menghormati Kedaulatan Negara
Kedaulatan negara merupakan prinsip yang tidak boleh diabaikan dalam forum internasional. Jazuli menegaskan bahwa setiap negara, tanpa memandang ukuran atau kekuatan militer, memiliki hak untuk menjalankan kebijakan di dalam negeri tanpa campur tangan eksternal. Tindakan AS yang menangkap pemimpin negara lain jelas melanggar hak tersebut.
Setiap kali kedaulatan dilanggar, akan muncul rasa ketidakadilan yang dapat menyebabkan ketegangan lebih lanjut. Jazuli percaya bahwa semakin banyak negara yang tidak menghormati hak kedaulatan satu sama lain, semakin dekat kita dengan kemungkinan konflik berskala besar.
Dalam konteks ini, penting bagi negara-negara di seluruh dunia untuk bersatu dan berdialog, berupaya menyelesaikan permasalahan melalui jalan diplomasi. Jazuli yakin bahwa diskusi terbuka dan saling menghormati akan lebih banyak mendorong stabilitas dibandingkan dengan tindakan militer yang merusak.
Risiko Global yang Muncul akibat Pelanggaran Hukum Internasional
Setiap pelanggaran hukum internasional, seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat, memiliki risiko yang tidak hanya terbatas pada negara yang diserang. Jazuli menekankan bahwa dampaknya akan dirasakan secara global, mengingat keterkaitan antar negara di era globalisasi ini.
Risiko utama yang muncul adalah meningkatnya ketidakpercayaan antara negara-negara. Dalam situasi di mana satu negara merasa bisa bertindak sepihak, negara lain mungkin akan merasa perlu untuk memperkuat pertahanan dan mengubah kebijakan luar negeri mereka, yang berujung pada perlombaan senjata.
Lebih jauh lagi, ketidakpastian ini dapat mempengaruhi ekonomi global. Ketika negara-negara merasa terancam, investasi dapat berkurang, dan aliran perdagangan bisa tersendat, yang merupakan preseden sulit bagi semua negara yang terlibat secara ekonomi.















