SMPN 3 Depok, sebuah sekolah yang baru dibangun dengan menghabiskan anggaran yang tidak sedikit, mendapati kenyataan mengejutkan di tengah proses belajar mengajarnya. Minimnya fasilitas meja dan kursi mengharuskan sejumlah siswa untuk membawa meja lipat dari rumah agar tetap dapat mengikuti pelajaran dengan nyaman.
Kepala sekolah, Ety Kuswandarini, mengonfirmasi bahwa keadaan ini murni merupakan keputusan yang diambil oleh para siswa dan orang tua mereka. Mereka lebih memilih untuk belajar dengan cara tersebut dibandingkan melanjutkan proses belajar dengan ketidaknyamanan akibat kekurangan fasilitas.
“Ini semua adalah keinginan dari orang tua dan anak,” ujar Ety, mencerminkan bahwa keluarga siswa memiliki partisipasi aktif dalam proses pendidikan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya komitmen dari semua pihak dalam menciptakan lingkungan belajar yang baik.
Penyebab Kekurangan Meja dan Kursi di SMPN 3 Depok
Ety menjelaskan bahwa seharusnya kebutuhan meja dan kursi sudah terpenuhi jika proses belajar mengajar dilakukan dalam dua sesi. Namun, mayoritas siswa menginginkan kegiatan belajar dimulai pagi, yang berujung pada kekurangan meja dan kursi di kelas.
“Kalau di siang hari meja dan kursinya ada, gantian dengan kelas yang masuk pagi,” ujar Ety, memberikan informasi mengenai sistem pembelajaran yang ada. Meskipun meja dan kursi memang ada, tidak semua kelas dapat mengaksesnya secara bersamaan.
Dari data yang ada, siswa kelas IX dan sebagian kelas VIII adalah yang mengikuti KBM pagi, menyadarkan semua pihak akan pentingnya fasilitas yang memadai dalam mendukung kegiatan sekolah. Kondisi ini menjadi tantangan bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi tenaga pengajar yang harus beradaptasi dengan situasi yang ada.
Solusi Sementara yang Ditempuh Oleh Siswa
Akibat dari situasi ini, para siswa terpaksa mengikuti pelajaran dengan cara lesehan dan menggunakan meja lipat yang mereka bawa sendiri. Hal ini menimbulkan variasi cara belajar yang unik, meskipun tentu saja tidak diinginkan dalam konteks pembelajaran formal.
“Meja dan kursi di SMPN 3 Depok tetap ada, namun belum terpenuhi semua untuk seluruh kelas,” ungkap Ety, menjelaskan keadaan yang dialami. Meski upaya dari siswa untuk membawa meja lipat diperlukan, tetap saja hal tersebut tidak ideal untuk proses belajar yang efektif.
Melihat dari sudut pandang lain, Ety menilai bahwa kekurangan ini tidak mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar. Dengan tekad yang tinggi, mereka tetap berusaha untuk mengikuti setiap pelajaran yang diberikan oleh guru.
Masalah Berbagi Fasilitas Antara Sekolah
Ety juga menyoroti bahwa kekurangan meja dan kursi di SMPN 3 Depok disebabkan juga oleh keharusan untuk berbagi dengan SMPN 33 Depok. Dahulu, kedua sekolah tersebut berada dalam satu bangunan, tetapi setelah rehabilitasi sekolah, kini mereka terpisah.
“Sekarang SMPN 33 Depok menggunakan kursi sehingga menyebabkan SMPN 3 Depok kekurangan kursi,” terang Ety. Permasalahan ini tidak hanya menjadi tantangan bagi SMPN 3, tetapi juga menciptakan kebutuhan untuk merencanakan kembali fasilitas yang diperlukan dalam mendukung kegiatan belajar mengajar.
Ety menekankan bahwa saat ini sudah tidak diperkenankan menggunakan kursi kayu, menggambarkan perubahan aturan yang berlaku dalam menjalankan kegiatan belajar. Memorandum dari pihak berwenang menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap keselamatan dan kenyamanan siswa di kelas.
Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di SMPN 3 Depok
Meskipun keadaan saat ini belum sepenuhnya ideal, Ety tetap optimis bahwa masalah ini akan teratasi seiring berjalannya waktu. Upaya dari sekolah dan perhatian orang tua dapat menjadi kunci dalam mewujudkan fasilitas pendidikan yang lebih baik di masa depan.
“Anaknya mau masuk pagi dengan kondisi seperti ini, orang tuanya juga seperti itu,” tambah Ety, menunjukkan betapa kuatnya harapan dari komunitas pendidikan untuk dapat belajar dengan nyaman. Harapan ini menjadi dorongan bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam menyediakan lingkungan belajar yang mendukung.
Dengan segala tantangan yang ada, siswa di SMPN 3 Depok boleh jadi menjadi contoh bagi sekolah lain yang menghadapi situasi serupa. Ketahanan dan kreativitas mereka dalam mengatasi kendala dapat memberikan inspirasi untuk menemukan solusi inovatif bagi masalah pendidikan.















