Pembangunan berkelanjutan merupakan tema penting dalam konteks global saat ini, di mana banyak negara dan institusi berusaha untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Jawa Tengah mencerminkan komitmen ini dengan memperkuat riset teknologi dan inovasi melalui penambahan lima guru besar baru.
Dari penambahan ini, UMS kini memiliki total 70 guru besar yang ahli dalam berbagai bidang. Hal ini menunjukkan dedikasi mereka untuk meningkatkan kualitas akademik yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam acara pengukuhan yang berlangsung secara khidmat, para calon guru besar menyampaikan pemaparan mengenai kontribusi mereka di bidang keilmuan. Acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris UMS, Andy Dwi Bayu Bawono, yang memberikan sambutan penuh penghargaan bagi para akademisi yang khidmat berkontribusi. Ia juga menyatakan harapannya agar penambahan guru besar ini bisa menjawab tantangan pendidikan dan riset di era modern.
Melalui pengukuhan ini, diharapkan UMS dapat lebih berperan aktif dalam mengembangkan gagasan dan solusi di bidang teknologi serta berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Guru besar pertama yang diperkenalkan adalah Suranto dari Prodi Teknik Industri, yang telah mengusung gagasan tentang Technopreneurship, mengintegrasikan teknologi dan kewirausahaan untuk menciptakan solusi inovatif.
Merangkul perkembangan teknologi, Suranto menjelaskan Technopreneurship sebagai sebuah platform yang bertujuan untuk memberdayakan lulusan agar mampu beradaptasi dengan tantangan dunia kerja. Gagasan ini menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi, terutama dalam konteks pengembangan kecerdasan buatan (AI), untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi di kalangan mahasiswa.
Strategi Universitas dalam Menghadapi Tantangan Global
UMS berkomitmen untuk menghadapi tantangan pendidikan tinggi dengan pendekatan yang komprehensif. Dengan adanya guru besar baru, mereka dapat mengeksplorasi berbagai isu relevan yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan. Adaptasi dan inovasi menjadi kunci dalam menjawab permintaan industri yang semakin pesat.
Kehadiran lima guru besar baru diharapkan bisa meningkatkan kualitas riset dan pengajaran di UMS. Masing-masing dari mereka membawa perspektif baru yang tidak hanya berfokus pada teoritis, tetapi juga aplikatif untuk menciptakan solusi nyata. Melalui kerjasama yang erat antara akademisi dan industri, ide-ide inovatif dapat terwujud lebih cepat dan efisien.
Universitas juga berkomitmen untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun sektor swasta. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung riset teknologi dan penerapan inovasi, serta menghasilkan lulusan yang siap pakai dan berkompeten di dunia kerja. Sinergi ini menjadi bagian penting dari strategi pendidikan yang lebih luas.
Dengan kehadiran para guru besar baru ini, UMS berupaya mendorong mahasiswa untuk lebih terlibat dalam riset yang relevan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat. Penekanan pada kolaborasi dan komunikasi antar disiplin ilmu juga menjadi fokus, dengan harapan dapat menciptakan solusi yang lebih menyeluruh dan praktis.
Peran Teknologi dalam Mewujudkan Kemandirian Ekonomi
Salah satu fokus utama dari program Technopreneurship adalah menciptakan lulusan yang mandiri dan inovatif. Suranto menjelaskan bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk mencapai tujuan ini. Melalui pelatihan dan pembelajaran, mahasiswa diajak untuk menerapkan konsep kewirausahaan menggunakan teknologi terkini.
Program ini diharapkan tidak hanya mengatasi masalah pengangguran terdidik tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan memadukan pendidikan dan kewirausahaan berbasis teknologi, UMS berupaya menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini sangat penting dalam menciptakan kemandirian ekonomi, khususnya di era digital saat ini.
Salah satu yang diharapkan melalui Technopreneurship adalah lahirnya inovator yang mampu menawarkan solusi konkret atas permasalahan sosial yang ada. Lulusan diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan perubahan di pasar kerja yang semakin dinamis. Ini akan menjadi langkah krusial dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia di Indonesia.
Dari perspektif lebih luas, dengan menciptakan lulusan yang mampu berinovasi dan berwirausaha, UMS berkontribusi pada penguatan ekonomi digital di Indonesia. Peran serta universitas dalam menciptakan ruang bagi inovasi menjadi salah satu kunci untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih luas.
Implikasi pada Pembangunan Berkelanjutan dan Pendidikan Tinggi
Peran universitas dalam membentuk arah pembangunan berkelanjutan semakin berlangsung, terutama di tengah tantangan global yang kompleks. Dengan adanya penambahan guru besar, UMS menawarkan visi yang jelas untuk masa depan pendidikan tinggi di Indonesia. Visi ini tidak hanya berkaitan dengan akademis, tetapi juga berkontribusi pada kebijakan dan praktik pembangunan yang berkelanjutan.
Dalam konteks ini, peran guru besar dalam menciptakan dan menyampaikan pengetahuan yang aplikatif menjadi semakin penting. Melalui riset yang berfokus pada masalah nyata, mereka dapat menawarkan solusi yang relevan bagi masyarakat. Ini memberikan dampak positif tidak hanya di lingkungan akademik, tetapi juga dalam skala yang lebih luas.
Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, sinergi antara pendidikan, riset, dan masyarakat menjadi hal yang tak terhindarkan. UMS berkomitmen untuk menjadikan pendidikan sebagai alat untuk perubahan sosial yang lebih besar. Melalui kolaborasi antara akademisi dan praktisi, dampak dari inovasi dapat direalisasikan dengan lebih cepat dan efisien.
Akhirnya, penambahan guru besar di UMS merupakan langkah strategis dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan dan industri. Langkah ini tidak hanya menciptakan peluang baru bagi mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial di tingkat nasional.













