Pembersihan rumah-rumah yang terdampak banjir menjadi fokus utama warga menjelang bulan suci Ramadan. Dalam kondisi yang sangat berat, mereka berharap rumah dapat kembali dapat dihuni, walaupun dalam keterbatasan setelah bencana yang dialami.
Rohana, salah satu warga Gampong Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, mengungkapkan pentingnya pengangkatan lumpur yang menggenang di lingkungan rumahnya. Masyarakat merasa khawatir jika tidak ada respons cepat dalam penanganan lumpur, air akan kembali mengalir ke dalam rumah mereka ketika hujan tiba.
Dengan semangat saling membantu, ia dan suaminya berusaha membersihkan lumpur setinggi 1,5 meter yang menimbun rumah mereka. Meskipun sudah berusaha keras, tantangan yang ada membuat mereka merasa frustrasi dan putus asa ketika air kembali menggenang setiap kali hujan turun.
Harapan dan Kesulitan Warga Menjelang Ramadan
Menjelang bulan Ramadan, harapan warga untuk bisa membersihkan rumah semakin mendesak. Apalagi, bulan suci adalah waktu yang seharusnya dipenuhi dengan ketenangan dan kesucian, tetapi keadaan akibat banjir justru menambah beban pikiran mereka.
Bukan hanya lumpur yang mengganggu, tetapi juga barang-barang di rumah yang telah terendam dan tidak dapat digunakan lagi. Banyak keluarga yang terpaksa mengandalkan alat dan perlengkapan seadanya untuk berusaha membersihkan rumah mereka.
Sulitnya untuk membayar tenaga pembersih menjadi salah satu masalah yang dihadapi. Warga khawatir dengan biaya perbaikan dan pembersihan akan semakin memperberat kondisi ekonomi mereka yang sudah terdampak sebelumnya.
Dampak Lingkungan dan Sosial Terhadap Masyarakat
Banjir yang terjadi memengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari di daerah tersebut. Selain merusak rumah dan fasilitas umum, bencana ini menimbulkan dampak sosial yang tidak kalah seriusnya.
Rasa kebersamaan di antara tetangga justru semakin terasa saat bencana melanda. Masyarakat saling bahu-membahu untuk membersihkan lingkungan meskipun dengan alat yang terbatas. Rasa solidaritas ini menjadi salah satu hal positip bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun.
Namun, di balik kerjasama tersebut, muncul pula tantangan baru. Warga harus mengatur logistik, kebutuhan sehari-hari, dan memastikan kesehatan keluarga tetap terjaga dalam situasi sulit. Penguatan jalinan komunikasi antarwarga menjadi kunci dalam berkolaborasi menghadapi perubahan yang datang.
Usaha Memperoleh Bantuan dari Pihak Lain
Warga di Gampong Manyang Cut terus berupaya mengajak pihak terkait agar memperhatikan kondisi mereka. Mereka berharap ada langkah cepat dari pemerintah dan organisasi kemanusiaan untuk membantu pembersihan dan masa pemulihan.
Bantuan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan menjadi salah satu kebutuhan mendesak. Dengan adanya mesin yang bisa mengeruk lumpur, diharapkan waktu untuk kembali normal dapat diperpendek, sehingga warga bisa kembali melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Pihaknya sangat bergantung pada dukungan dari luar, terutama untuk menangani kerusakan rumah yang cukup parah. Intervensi dari pihak berwenang dalam bentuk bantuan langsung sangat dinanti oleh semua warga yang saat ini merasa tertekan.















