Harga rumah sekunder di Indonesia mengalami kenaikan tipis pada Desember 2025, dengan pertumbuhan sebesar 0,2% secara bulanan. Meski hanya sedikit, pergerakan ini menunjukkan adanya harapan di tengah tantangan inflasi dan perlambatan ekonomi yang berlangsung sepanjang tahun tersebut.
Kenaikan yang moderat ini menjadi sinyal positif bagi pasar properti, di mana pelaku industri mulai merasakan perubahan setelah periode yang cukup menantang. Data terbaru menunjukkan bahwa transaksi rumah semakin menarik perhatian, walaupun masih dalam tahap pemulihan yang hati-hati.
Melalui laporan bulanan yang terperinci, pentingnya memahami dinamika yang terjadi dalam harga dan suplai rumah menjadi sangat krusial. Tren ini tidak hanya mempengaruhi pasar rumah, tetapi juga mengindikasikan arah pertumbuhan ekonomi di sektor properti secara keseluruhan.
Tren Kenaikan Harga Rumah Sekunder di Pasar Nasional
Harga rumah secara nasional tercatat mengalami kenaikan 0,2% secara bulanan dan 0,7% secara tahunan pada akhir tahun 2025. Dalam pemantauan terhadap 13 kota besar, terlihat bahwa 8 kota mengalami kenaikan harga rumah secara bulanan, dan 9 kota mengalami pertumbuhan positif dari tahun sebelumnya.
Namun, meskipun ada kenaikan harga, situasi ini belum menunjukkan indikasi pemulihan yang signifikan. Sepanjang tahun, pertumbuhan harga masih melambat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, disebabkan oleh berbagai faktor seperti inflasi yang menggerogoti daya beli masyarakat.
Untuk lebih mendalami tren ini, beberapa kota dengan kenaikan harga tahunan tertinggi termasuk Denpasar, Bekasi, dan Makassar. Meskipun kota-kota tersebut menunjukkan penyesuaian harga yang baik, beberapa wilayah seperti Bogor dan Surakarta masih menghadapi tantangan dengan pertumbuhan negatif.
Pergerakan Suplai di Pasar Properti Sekunder
Di sisi lain, suplai rumah sekunder mengalami tantangan yang cukup besar. Volume suplai menurun 1,0% secara bulanan dan 9,1% secara tahunan, menunjukkan ketidakpastian yang sedang dihadapi oleh pemilik properti. Penurunan ini mencerminkan sikap “wait and see” yang diterapkan oleh para pemilik, seiring dengan fluktuasi permintaan dan situasi ekonomi yang kurang stabil.
Kondisi ini semakin diperparah dengan fakta bahwa suplai terus terkontraksi selama kuartal IV 2025. Berbeda dengan situasi di tahun 2024 yang mencatat pertumbuhan signifikan, tahun 2025 menunjukkan bahwa pasar masih berada pada fase konsolidasi, bukan dalam ekspansi yang agresif.
Hal ini menciptakan ruang bagi para pelaku industri untuk melakukan penyesuaian dan strategi yang lebih tepat, mempertimbangkan situasi di lapangan dan ekspektasi yang datang dari konsumen. Karenanya, memahami dinamika suplai menjadi semakin penting di tengah perubahan ini.
Peran Jabodetabek dan Kota Penyangga dalam Pasar
Wilayah Jabodetabek masih menjadi motor penggerak dalam pasar properti nasional, yang mana beberapa kota di kawasan ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Depok, misalnya, mencatatkan kenaikan harga bulanan sebesar 1,3% dan menunjukkan pergerakan positif yang menggembirakan.
Bekasi juga mencatatkan pertumbuhan yang baik, baik secara bulanan maupun tahunan. Begitu pula dengan Tangerang yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasca tekanan yang dirasakan di awal tahun 2025.
Di luar Pulau Jawa, Makassar muncul sebagai daerah dengan pertumbuhan harga yang menarik, menciptakan peluang bagi para investor yang ingin mendiversifikasi portofolio mereka. Tren ini menunjukan bahwa ada minat investasi yang mengalir ke wilayah-wilayah di luar ibu kota.
Hubungan Inflasi dan Harga Rumah dalam Ekonomi
Dari perspektif makroekonomi, angka inflasi pada Desember 2025 mencatatkan 2,92% (YoY), yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan harga rumah yang hanya 0,7%. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa harga rumah belum sepenuhnya mampu mengikuti laju inflasi yang ada, yang menjadi perhatian tersendiri bagi para pembeli dan investor.
Dalam beberapa bulan sebelumnya, inflasi terus berada di atas pertumbuhan indeks harga rumah, menandakan perlunya strategi yang lebih cermat dalam merencanakan investasi properti. Sementara itu, kebijakan moneter yang dijalankan oleh pemerintah, melalui Bank Indonesia, berusaha menciptakan stabilitas melalui suku bunga yang tetap pada level tertentu.
Upaya ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan sektor properti di tahun-tahun mendatang, sekaligus meminimalisir dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat yang ingin memiliki rumah.
Prospek Pasar Properti di Tahun 2026 dan Sinyal Awal Stabilitas
Secara keseluruhan, pasar properti sekunder di Indonesia menunjukkan stabilisasi yang menjanjikan pada awal tahun 2026. Meski kenaikan harga masih terbatas, ada sinyal-sinyal bahwa pasar mulai berada pada jalur pemulihan, meskipun pertumbuhan belum agresif.
Faktor yang perlu diperhatikan antara lain adalah inflasi, yang masih lebih tinggi daripada pertumbuhan harga rumah, dan suplai yang masih dalam tekanan. Semua ini membutuhkan perhatian dari pelaku pasar untuk membuat keputusan yang tepat ke depan.
Oleh karena itu, tahun 2026 akan menjadi momen penting bagi para pelaku industri untuk mencermati setiap perkembangan yang ada, serta peluang yang mungkin muncul dari pergeseran tren yang terjadi. Kesiapan untuk beradaptasi dalam pasar yang berubah ini akan menjadi kunci keberhasilan di masa depan.















