Baru-baru ini, bentrokan yang terjadi antara warga Desa Longgar dan Desa Apara di Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, telah menimbulkan perhatian luas. Peristiwa ini bukan hanya menyebabkan kehilangan nyawa, tetapi juga mengundang rasa duka dan ketegangan di kalangan masyarakat sekitar.
Menurut informasi yang dihimpun, bentrokan yang terjadi pada Jumat pagi (2/1) mengakibatkan dua orang meninggal dan enam lainnya mengalami luka-luka. Apa yang sebenarnya menjadi penyebab utama konflik ini, dan bagaimana situasi saat ini di daerah tersebut?
Peristiwa ini berawal dari insiden yang melibatkan dua warga Desa Longgar yang ingin membeli minuman keras di Desa Apara. Konflik ini tidak terduga, dan menunjukkan bagaimana ketegangan bisa memicu kekerasan dalam waktu singkat.
Awal Mula Bentrokan Antara Dua Desa di Maluku
Insiden ini dimulai pada Kamis (1/1) saat dua orang warga Desa Longgar, Lorensius Jerwy dan Maksimus Kobaun, mencoba membeli minuman keras. Dalam perjalanan mereka, kedua warga ini dihadang oleh sepuluh pemuda dari Desa Apara yang berusaha mencegah mereka melanjutkan perjalanan.
Ketika dihadang, Lorensius dan Maksimus menjadi korban pemukulan. Mereka pun berusaha melarikan diri kembali ke Desa Longgar untuk menghindari situasi yang semakin memburuk. Kejadian ini memicu rasa marah di kalangan warga Desa Longgar, dan mereka berencana untuk mencari pelaku pemukulan.
Pukul 16:27 WIT, situasi semakin memanas ketika sepuluh warga Desa Longgar berkumpul dan menuju perbatasan desa untuk menghadapi para pelaku. Di sinilah bentrokan yang lebih besar dimulai, melibatkan berbagai senjata dari parang hingga busur panah.
Pengaruh Oknum dan Upaya Pelarangan yang Gagal
Di tengah ketegangan, seorang pendeta bernama Japy Tenu berusaha melerai bentrokan. Namun, meskipun terdapat usaha untuk mendamaikan kedua belah pihak, upaya tersebut ternyata sia-sia. Sementara warga dari dua desa terus berdatangan, situasi semakin tidak terkendali.
Para warga saling menyerang, dan aksi ini berlanjut hingga menjelang malam. Pukul 17:00 WIT, kondisi semakin buruk ketika anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa berusaha melerai namun tidak berhasil menghentikan pertempuran yang berlangsung.
Sekitar pukul 09:00 WIT pada hari berikutnya, bentrokan kembali pecah. Kali ini, warga Desa Apara melakukan serangan balasan terhadap warga Desa Longgar, yang mengakibatkan dua kematian dan enam luka-luka.
Penyelidikan dan Tindakan Aparat Keamanan
Kapolres Aru, AKBP Albert Perwira Sihite, mengkonfirmasi bahwa situasi tersebut sangat serius. Menyadari potensi konflik yang dapat meluas, sekitar tiga puluh personel Brimob dan anggota Polres setempat dikerahkan untuk meredakan ketegangan di lokasi bentrokan.
Pihak berwenang berupaya mendapatkan informasi lebih mendalam mengenai penyebab bentrokan. Dilaporkan bahwa akar dari masalah ini terkait dengan sengketa lahan di perbatasan kedua desa, yang masing-masing pihak mengklaim sebagai milik mereka.
Bupati Kabupaten Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, juga turun tangan dalam situasi ini. Ia menjelaskan pentingnya dialog antara tokoh-tokoh masyarakat di kedua desa untuk mencari solusi damai. Dia berharap agar situasi bisa mereda dan persaudaraan yang ada tidak terpengaruh oleh insiden ini.
Tanggapan Masyarakat dan Harapan untuk Masa Depan
Warga di Desa Longgar dan Desa Apara merasa sangat berduka atas peristiwa yang menunjukkan betapa rapuhnya ketenangan sosial di daerah tersebut. Kerinduan akan kedamaian menyentuh semua lapisan masyarakat, dan banyak yang berharap agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.
Pernyataan dari sang bupati mengingatkan semua pihak untuk menahan diri dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperburuk kondisi. Masyarakat diharapkan untuk saling menghormati dan mencari jalan damai dalam menyelesaikan masalah.
Peristiwa bentrokan ini memang menyisakan luka mendalam. Namun, dengan adanya langkah-langkah preventif dan mediasi yang baik dari semua pihak, diharapkan kedamaian akan kembali terwujud dan hubungan antar desa bisa diperbaiki.















