Peristiwa runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, menyisakan duka yang mendalam. Proses evakuasi korban berlangsung secara intensif dan terus menerus, menuntut dedikasi tinggi dari berbagai pihak. Tim SAR yang terlibat bekerja keras, memberikan harapan bagi keluarga yang menunggu kabar mengenai orang-orang tercinta yang hilang.
Saat ini, sebanyak 28 korban ditemukan tewas, dengan satu di antaranya ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Proses pencarian dan evakuasi menjadi fokus utama, dan semua tenaga dibaktikan untuk menyelamatkan nyawa yang masih mungkin berada di bawah reruntuhan.
Tim SAR, yang terdiri dari berbagai elemen, terus melakukan pencarian tanpa henti. Pada malam hari, laporan terbaru menunjukkan dua korban berhasil dievakuasi dari sektor A3, menandakan adanya harapan di tengah kesedihan.
Proses Evakuasi yang Terus Berlangsung dengan Keterlibatan Banyak Pihak
Evakuasi ini melibatkan berbagai instansi, termasuk Basarnas dan pihak keamanan, yang berkolaborasi dalam mengatasi situasi darurat. Dengan alat berat dan teknologi pencarian modern, mereka bekerja di bawah tekanan untuk menemukan korban. Setiap detil dari operasi ini menunjukkan keterpaduan antar lembaga yang saling mendukung.
Upaya ini tidak hanya terbatas pada pencarian korban yang hilang, tetapi juga memberikan dukungan kepada keluarga yang berduka. Tim psikolog yang disiapkan untuk mendukung mental para santri dan keluarga turut menjadi bagian penting dalam proses evakuasi ini. Dengan adanya penanganan mental, diharapkan mereka dapat lebih tabah menghadapi situasi sulit ini.
Dalam laporan terbaru, total korban yang berhasil ditemukan mencapai 132 orang, di mana 104 di antaranya dalam kondisi selamat. Statistik ini menunjukkan upaya maksimal tim dalam mencari nyawa yang mungkin masih terjebak di bawah puing-puing bangunan.
Peristiwa Tragis yang Menyeret Ratusan Santri
Pondok Pesantren Al Khoziny, yang sedang dalam tahap pembangunan, ambruk pada Senin sore, saat ratusan santri melaksanakan Salat Asar. Kejadian ini menambahkan rasa getir, mengingat banyaknya orang yang berada di dalam gedung saat insiden terjadi. Kesedihan mendalam tidak hanya terasa oleh keluarga korban, tetapi juga seluruh komunitas pesantren.
Bangunan tiga lantai, termasuk musala, yang runtuh memberi dampak besar bagi para santri dan penduduk sekitar. Para santri yang berharap mendapatkan pendidikan agama di tempat tersebut kini berada dalam situasi yang sangat sulit. Pengalaman ini akan selalu diingat dalam sejarah pondok dan masyarakat setempat.
Saat petugas evakuasi bekerja untuk mengeluarkan korban, harapan tetap ada untuk menemukan mereka yang belum ditemukan. Keberanian tim SAR yang terlibat dalam misi berbahaya ini patut dihargai karena mereka rela berkorban demi menyelamatkan sesama.
Kawasan Penyimpanan Korban dan Proses Identifikasi
Setelah berhasil menemukan jenazah, tim langsung membawanya ke RS Bhayangkara Surabaya untuk proses identifikasi. Proses ini sangat penting agar keluarga dapat segera mengetahui kondisi anggota keluarga mereka. DVI Polda Jatim terlibat dalam proses identifikasi, memastikan bahwa setiap jenazah dapat dikenali dengan jelas.
Upaya ini tidak hanya difokuskan pada mencari dan mengidentifikasi korban, tetapi juga pada menghormati mereka yang telah meninggal. Setiap jenazah dibawa dengan penuh penghormatan, disertai doa dari keluarga dan rekan-rekan santri yang berduka.
Proses identifikasi ini diharapkan dapat segera selesai, sehingga keluarga bisa mendapatkan kejelasan dan menutup luka yang ada. Kesedihan mereka tidak dapat diukur, tetapi dukungan dari masyarakat setempat dan seluruh Indonesia diharapkan dapat menguatkan mereka dalam masa yang sulit ini.















