Insiden pengeroyokan yang terjadi di lingkungan keraton baru-baru ini menimbulkan perhatian publik. Kubu SISKS Pakubuwana XIV Purbaya telah melaporkan kejadian ini, yang melibatkan sejumlah abdi dalem dari Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta.
Pengeroyokan ini terjadi menjelang prosesi penyerahan Surat Keputusan (SK) Menteri Kebudayaan. Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang datang untuk menyerahkan SK kepada KG-PA Tedjowulan.
Menurut Juru Bicara PB XIV Purbaya, KPA Singonagoro, tindakan pengeroyokan ini telah mengganggu kedamaian dalam acara penting tersebut. Ia menekankan bahwa laporan ini tidak bisa dianggap sepele.
Dampak Pertikaian Antar Kubu di Lingkungan Keraton
Pertikaian antara kubu SISKS dan LDA tampaknya berdampak pada suasana di keraton. Insiden pengeroyokan bukanlah pertama kalinya terjadi di antara dua kubu ini, dan hal ini menunjukkan ketegangan yang meningkat.
Kedua pihak memang berseberangan dalam pandangan mengenai kepemimpinan dan tradisi yang berlangsung. Pihak LDA, yang dipimpin oleh GKR Wandansari, merupakan pendukung kuat dari kubu Mangkubumi.
Ketegangan ini juga mempengaruhi hubungan antara para abdi dalem. Banyak yang merasa terjebak di tengah, tidak tahu harus memihak ke mana. Hal ini jelas sangat disayangkan, terutama dalam tradisi keraton yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
Proses Penanganan Kasus Pengeroyokan yang Terjadi
Setelah insiden tersebut terjadi, para abdi dalem dari kubu PB XIV Purbaya segera melaporkannya ke pihak berwenang. Proses hukum diharapkan dapat memberikan keadilan bagi korban yang bernama RP.
Pihak kepolisian sudah menerima laporan ini dan sedang melakukan penyelidikan. Di tengah ketegangan yang ada, penting untuk memberikan perhatian kepada proses hukum agar tidak terpengaruh oleh situasi di lapangan.
Korban pengeroyokan mengalami luka dan trauma yang signifikan. Kuasa hukum korban, Ardi Sasongko, menyatakan bahwa lebih dari sepuluh orang terlibat dalam pengeroyokan ini.
Peran Budaya dan Tradisi dalam Masyarakat Keraton
Budaya dan tradisi di keraton Surakarta memiliki nilai yang sangat penting bagi masyarakat. Namun, meski dihormati, terkadang pertikaian dalam dunia keraton justru memunculkan masalah seperti insiden ini.
Tradisi seharusnya menjadi pengikat antara yang tua dan muda, tetapi sebaliknya, bisa menjadi sumber perpecahan. Hal ini menunjukkan bahwa segala sesuatu bisa tergoyahkan, termasuk struktur hierarkis yang terdapat dalam keraton.
Penting bagi seluruh pihak untuk kembali meneguhkan nilai-nilai kebersamaan dan saling pengertian. Tanpa itu, keraton yang seharusnya menjadi simbol persatuan justru bisa menjadi ajang konflik.















