Rasa nyeri yang muncul di pergelangan tangan bisa jadi merupakan gejala dari Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Kondisi ini diakibatkan oleh penekanan saraf medianus yang terdapat di area pergelangan, menghambat fungsi normal jari-jari tangan kita.
Carpal Tunnel Syndrome bukan hanya berupa rasa sakit; gejala lain yang sering muncul bisa berupa kesemutan atau mati rasa. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan mempengaruhi kualitas hidup.
Menurut Margareta Arianni, seorang dokter spesialis ortopedi dan konsultan bedah tangan, carpal tunnel dibentuk oleh struktur tulang dan ligamen. Ketika area ini mengalami pembengkakan atau perubahan, maka saraf medianus dapat terhimpit, menyebabkan berbagai keluhan pada pasien.
Pengenalan Carpal Tunnel Syndrome dan Gejalanya
CTS umumnya berkembang secara bertahap, sering kali dengan gejala yang menjadi lebih terasa saat malam hari. Hal ini membuat penderitanya sering terbangun karena rasa tidak nyaman yang dialami. Kondisi ini memang dapat dialami oleh siapa saja, namun wanita cenderung berada di posisi risiko yang lebih tinggi dibandingkan pria.
Tekanan pada saraf medianus dapat diakibatkan oleh beragam faktor, termasuk rutinitas sehari-hari yang melibatkan gerakan tangan berulang. Aktivitas seperti mengetik di komputer atau memasak dalam waktu lama menjadi tekanan lebih pada pergelangan tangan.
Dalam beberapa kasus, posisi yang tidak ergonomis saat bekerja juga dapat memperburuk kondisi ini. Misalnya, pergelangan tangan yang sering menekuk sambil menahan beban dalam waktu yang lama, bisa memicu terjadinya CTS.
Penyebab Umum Carpal Tunnel Syndrome yang Perlu Diketahui
Berbagai faktor hormon juga berkontribusi pada meningkatnya risiko terjadinya CTS, terutama pada wanita. Ketika wanita mengalami masa kehamilan atau menopause, perubahan hormon yang drastis dapat memicu pembengkakan di area carpal tunnel.
Penyakit-penyakit tertentu juga dapat menjadi penyebab CTS. Contohnya adalah diabetes, gangguan tiroid, serta obesitas yang dapat menambah tekanan pada saraf medianus.
Radang sendi, seperti rheumatoid arthritis, dapat menyebabkan peradangan di sekitar tendon, memperburuk kondisi carpal tunnel. Cedera yang dialami pada pergelangan tangan, seperti patah tulang atau dislokasi, juga bisa mengubah struktur carpal tunnel dan meningkatkan risiko CTS.
Siapa Saja yang Rentan Terkena Carpal Tunnel Syndrome?
Berdasarkan penelitian, ukuran alami carpal tunnel dapat lebih kecil pada wanita. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap CTS dibandingkan pria yang memiliki struktur carpal tunnel lebih luas.
Adanya pekerjaan dengan tuntutan tinggi yang melibatkan tangan, seperti pekerjaan di bidang teknologi informasi, juga meningkatkan risiko terkena CTS. Pekerja yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer berisiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan ini.
Selain itu, faktor usia juga mempengaruhi. Orang yang lebih tua umumnya memiliki peluang lebih besar untuk mengalami CTS, karena faktor degeneratif yang terkait dengan penuaan.
Pentingnya Diagnosis dan Pengobatan Dini Carpal Tunnel Syndrome
Ketika muncul gejala yang mencurigakan, penting untuk segera berkonsultasi dengan profesional medis agar bisa mendapatkan diagnosis yang tepat. Biasanya, dokter akan melakukan serangkaian tes untuk menentukan tingkat keparahan CTS yang dialami.
Pengobatan CTS bervariasi, mulai dari terapi fisik, penggunaan splint, hingga intervensi bedah. Jika gejala masih ringan, terapi fisik atau penggunaan splint malam hari bisa menjadi solusi yang efektif.
Namun, jika CT se sudah parah, prosedur bedah mungkin diperlukan untuk mengurangi tekanan pada saraf medianus. Penting untuk diingat, penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah kerusakan permanen pada saraf dan mempercepat pemulihan.















