Pandu Negeri baru-baru ini menyelenggarakan Public Lecture Series 002 di Embung Giwangan, Yogyakarta, pada Senin, 16 Februari. Acara ini bertujuan untuk membahas isu-isu penting terkait pendidikan, keadilan, dan hak generasi yang akan datang, serta menghadirkan pembicara-pembicara berpengalaman di bidangnya.
Salah satu pembicara kunci pada acara ini adalah Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang menyoroti tantangan signifikan dalam mendorong perubahan sosial. Ia membagikan pengalamannya dalam mengatasi masalah sanitasi di kawasan aliran sungai, yang menurutnya adalah contoh nyata dari kebutuhan untuk merubah perilaku masyarakat.
“Masalah pendidikan bukan hanya berkisar pada infrastruktur atau teknologi, tetapi pada perilaku masyarakat itu sendiri,” ujar Hasto. Pernyataan ini menggugah kesadaran pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi tantangan-tantangan sosial yang ada.
Isu Pendidikan dan Perubahan Sosial di Indonesia
Dalam konteks pendidikan, Hasto menyatakan bahwa pemahaman masyarakat tentang pentingnya sanitasi harus diimbangi dengan perilaku yang benar. Meskipun infrastruktur pendidikan dan sanitasi telah dibangun, perilaku buang air besar sembarangan tetap menjadi masalah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat perlu lebih dari sekadar informasi—they need a change of mindset.
Politikus muda PDIP, Aryo Seno Bagaskoro, juga menyoroti pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan dan memajukan kesejahteraan umum. “Pendidikan harus kembali pada khitahnya, bukan hanya sekadar menghasilkan tenaga kerja untuk industri,” tegasnya. Dengan kata lain, pendidikan harus memanusiakan manusia terlebih dahulu.
Di sisi lain, Rocky Gerung, seorang akademisi, mengajak peserta untuk berpikir kritis tentang kondisi pendidikan saat ini. Ia berpendapat bahwa pendidikan yang diprivatisasi dapat menghilangkan esensi dari apa yang seharusnya menjadi tujuan utama pendidikan itu sendiri. Pendidikan, menurutnya, seharusnya bersifat inklusif dan merangkul seluruh lapisan masyarakat.
Peran Pemerintah dalam Mewujudkan Perubahan
Hasto Wardoyo melanjutkan dengan menekankan tanggung jawab pemerintah dalam menciptakan kebijakan pendidikan yang lebih baik. “Pemerintah harus mampu menyediakan fasilitas yang memadai, namun lebih penting dari itu adalah memastikan bahwa masyarakat memahami dan memanfaatkan fasilitas tersebut dengan baik,” katanya.
Keberanian untuk mengubah kebijakan publik, menurut Hasto, juga harus disertai dengan partisipasi aktif masyarakat. “Tanpa keterlibatan masyarakat, perubahan apapun akan sulit terwujud,” imbuhnya. Ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Untuk mencapai semua itu, pendidikan harus mencakup nilai-nilai moral dan etika yang kuat. Aryo Seno menekankan bahwa tanpa pondasi moral yang baik, masa depan generasi muda akan terancam. “Pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang karakter dan nilai-nilai baik,” jelasnya.
Pentingnya Kesadaran Kolektif dalam Pendidikan
Selain itu, para pembicara dalam acara ini menyepakati bahwa ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kesadaran kolektif di kalangan masyarakat. Hasto mengatakan, “Kita perlu menyebarkan kesadaran mengenai pentingnya sanitasi dan pendidikan di semua lapisan masyarakat.” Kegiatan edukatif semacam ini penting agar masyarakat mau terlibat aktif dalam perbaikan kualitas hidup mereka.
Rocky Gerung menambahkan bahwa pendidikan harus menjadi bahan refleksi bagi setiap individu. “Kita tidak hanya belajar untuk mendapatkan gelar, tetapi untuk memahami diri dan lingkungan kita dengan lebih baik,” tambahnya. Ini adalah panggilan untuk menciptakan budaya belajar yang kritis dan reflektif.
Sekali lagi, Aryo menegaskan bahwa pendidikan yang memperhatikan kebutuhan masyarakat adalah kunci untuk mencapai kesejahteraan umum. “Kita perlu menjaga esensi pendidikan yang mendalam dan humanis agar generasi muda kita tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap berkontribusi bagi masyarakat,” tutupnya.















