Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa kebanyakan responden berpendapat bahwa faktor manusia berkontribusi besar terhadap bencana banjir bandang yang melanda beberapa daerah di Sumatra. Dalam survei ini, sebanyak seribu orang menjadi sampel untuk memahami lebih jauh penyebab kejadian alam tersebut.
Survei dilakukan antara 9 hingga 13 Januari dan banyak mencakup opini masyarakat terkait penyebab banjir yang merugikan banyak orang. Hasilnya mengungkapkan bahwa mayoritas responden mengaitkan bencana ini dengan aktivitas manusia.
“Sekitar 85,3 persen responden meyakini bahwa kebencanaan ini disebabkan oleh faktor manusia, sedangkan hanya 14,5 persen yang menyebut faktor alam,” ungkap Direktur lembaga survei tersebut pada sebuah konferensi pers.
Menyelami Penyebab Utama Banjir Bandang di Sumatra
Dari data yang terkumpul, sebanyak 66,2 persen responden menyebutkan bahwa deforestasi menjadi salah satu faktor utama. Penggundulan hutan telah menjadi masalah besar yang berimbas pada perubahan lingkungan sekitar, sehingga meningkatkan risiko banjir.
Selain itu, alih fungsi lahan juga berkontribusi sebesar 6,3 persen, sedangkan aktivitas tambang ilegal menyumbang 4,4 persen. Ekspansi perkebunan sawit juga turut berperan dengan persentase 3,8 persen.
“Faktor cuaca ekstrem hanya dianggap penyebab oleh 11,5 persen responden,” tambahnya. Data ini menunjukkan bahwa kesadaran akan dampak perilaku manusia terhadap lingkungan masih perlu ditingkatkan.
Respons Masyarakat terhadap Penanganan Bencana
Survei ini juga mengevaluasi tingkat kepuasan masyarakat terhadap upaya pemerintah dalam menangani bencana. Hasilnya, hanya 38,3 persen yang merasa puas, sedangkan 59,0 persen lainnya menyatakan ketidakpuasan.
Bagi mereka yang tidak puas, penanganan yang dinilai lamban menjadi masalah utama, dengan 26,8 persen responden mengungkapkan pendapat tersebut. Selain itu, kurangnya bantuan yang memadai dan tidak dijadikannya bencana sebagai status nasional juga disebutkan.
“Distribusi bantuan yang tidak merata juga dikemukakan oleh 2,8 persen responden,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi antara pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dalam penanganan bencana.
Pentingnya Penanganan Bencana yang Lebih Tepat
Sementara itu, bagi mereka yang puas dengan penanganan pemerintah, mereka menilai respons yang diberikan sudah baik. Misalnya, 16,1 persen responden berpendapat bahwa pemerintah telah merespons dengan cepat dan efisien.
Selain itu, 5,2 persen menyatakan bahwa bantuan logistik yang diberikan sudah cukup lengkap. Beberapa responden juga percaya bahwa pemerintah telah berupaya maksimal dalam menangani situasi kritis ini.
Menariknya, survei ini juga menunjukkan bahwa 86,7 persen responden setuju bahwa kejadian banjir tersebut layak diakui sebagai status bencana nasional. Banyak yang berpendapat bencana ini membawa dampak yang luas, sehingga memerlukan perhatian lebih.















