Pada akhir 2025, bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh membawa dampak yang jauh lebih besar daripada kerusakan fisik dan korban jiwa. Kejadian tersebut telah memicu krisis ekologi yang mengancam ketahanan pangan serta kesejahteraan ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.
Kerusakan lingkungan akibat bencana ini tidak hanya berakibat pada sektor pertanian, tetapi juga sektor perikanan yang sangat vital bagi kehidupan sehari-hari warga Aceh. Masyarakat harus menghadapi risiko gagal panen dan penurunan kualitas sumber daya alam sebagai imbas dari bencana ini.
Menghadapi situasi yang mengkhawatirkan ini, penting untuk melaksanakan restorasi ekologi yang berfokus pada solusi berbasis alam. Hal ini bertujuan untuk memulihkan lingkungan, melindungi ekosistem, dan menjamin keberlanjutan pembangunan di Aceh.
Pentingnya Restorasi Ekologis Setelah Bencana Di Aceh
Achmad Tjachja Nugraha, seorang pengamat ekonomi pertanian, menegaskan bahwa rekonstruksi Aceh perlu dilakukan dengan pendekatan restorasi ekologis yang sistematis. Ia mencatat bahwa pemulihan fisik saja tidak cukup untuk mengatasi kerusakan yang terjadi.
Beliau menyatakan, “Kerusakan lingkungan yang terjadi sudah begitu parah sehingga tidak bisa dibiarkan pulih dengan sendirinya.” Oleh karena itu, peran negara sangat penting dalam proses restorasi ini, terutama dalam sektor-sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Restorasi ekologi, menurut Achmad, bertujuan untuk mengembalikan integritas serta fungsi ekosistem agar dapat berproduktivitas dan mandiri. Dengan demikian, masyarakat akan memiliki ketahanan terhadap bencana di masa mendatang.
Solusi Berbasis Alam untuk Pemulihan Lingkungan
Pendekatan restorasi ini mencakup beberapa aspek penting, seperti rehabilitasi tanah, pemulihan daerah aliran sungai, dan penguatan ekosistem pesisir. Dalam hal ini, penggunaan solusi berbasis alam dapat menjadi infrastruktur hijau yang berkelanjutan dan efektif.
Solusi berbasis alam bukan hanya bertujuan untuk memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga mendukung pembangunan masyarakat yang lebih baik. Dengan memperkuat ekosistem, masyarakat akan menjadi lebih resilien terhadap dampak negatif bencana di masa depan.
Melalui strategi ini, akan tercipta peluang untuk mengintegrasikan kegiatan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan. Usaha tersebut harus berfokus pada keterlibatan masyarakat untuk memberikan manfaat secara langsung.
Dampak Bencana terhadap Sektor Pertanian dan Perikanan
Berdasarkan pengamatan foto udara dan laporan pemerintah, lahan pertanian yang mengalami dampak bencana di Aceh dan sekitarnya mencapai sekitar 40.000 hektare. Ini termasuk sawah serta tanaman pangan dan hortikultura yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Sawahlah yang paling banyak terdampak, terendam air dalam waktu lama dan tertimbun lumpur, sehingga menyebabkan gangguan masa tanam. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pangan yang menjadi masalah serius pascabencana.
Sebagian besar petani di daerah tersebut harus menghadapi kemungkinan gagal panen, yang pada gilirannya berimbas pada perekonomian lokal. Oleh karena itu, upaya pemulihan harus dilakukan dengan sistematis dan terencana untuk mencegah dampak lebih lanjut yang dapat mengancam kehidupan masyarakat.













