Pasar perkantoran di Jakarta pada tahun 2026 menunjukkan dinamika yang menarik. Meskipun ruang kosong masih mencapai total sekitar 3 juta meter persegi, ruang yang menarik bagi para penyewa semakin terbatas, terutama yang berkualitas tinggi di kawasan pusat bisnis.
Kondisi ini menandakan pemulihan yang tidak merata, di mana gedung-gedung premium dengan lokasi strategis mulai terdorong untuk pulih lebih cepat dibandingkan segmen lainnya.
Ferry Salanto, seorang ahli riset, menegaskan bahwa perubahan perilaku penyewa merupakan salah satu faktor penting dalam kuartal ketiga 2026. Aktivitas pengurangan ruang kantor mulai berkurang, sementara perusahaan mulai menambah area seiring peningkatan kebutuhan bisnis.
“Jakarta belum kekurangan ruang kantor, tetapi mengalami kekurangan ruang yang diminati,” katanya dalam briefing mengenai pasar perkantoran terbaru di Jakarta.
Ruang Kosong di Pasar Perkantoran Jakarta Tetap Tinggi
Secara keseluruhan, pasar perkantoran di Jakarta masih menghadapi kelebihan ruang. Data terbaru menunjukkan bahwa ruang kosong di kawasan CBD mencapai 1,75 juta meter persegi, sedangkan di luar kawasan tersebut sekitar 1,26 juta meter persegi.
Dengan demikian, total ruang kosong berada di kisaran 3 juta meter persegi. Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan keadaan yang dihadapi perusahaan dalam mencari ruang kantor yang baru.
| Indikator Pasar Perkantoran Jakarta | Q3 2026 |
|---|---|
| Ruang Kosong CBD | ±1,75 juta m² |
| Ruang Kosong Luar CBD | ±1,26 juta m² |
| Total Ruang Kosong | ±3,01 juta m² |
| Ruang Kosong Gedung Premium CBD | ±128.000 m² |
| Ruang Kosong Grade A CBD | ±873.000 m² |
| Okupansi SCBD | ±87% |
Penting untuk dicatat bahwa ruang premium di CBD yang masih kosong jauh lebih sedikit dibandingkan ruang Grade A yang tersedia. Hal ini menunjukkan bahwa pilihan kantor semakin berkurang ketika standar lokasi dan kualitas dipertimbangkan.
Dua Kecepatan dalam Pemulihan Pasar Perkantoran
Pasar perkantoran Jakarta mengalami pemulihan dalam dua kecepatan. Di satu sisi, sebagian besar pasar masih berada dalam dominasi tenant market. Hal ini membuat pemilik gedung menghadapi tantangan untuk mempertahankan tingkat hunian dan fleksibilitas dalam negosiasi.
Di sisi lain, gedung-gedung premium dengan tingkat okupansi tinggi telah mulai mengubah posisi mereka. Beberapa aset premium telah mencapai tingkat hunian di atas 90%, sehingga pemiliknya lebih percaya diri dalam mempertahankan tarif sewa.
Kondisi ini terlihat jelas di kawasan SCBD, yang memiliki tingkat hunian sekitar 87%. Keberhasilan kawasan ini bukan hanya karena lokasi, melainkan kombinasi kualitas gedung dan akses transportasi publik yang baik.
Kehadiran transportasi umum seperti MRT menjadi faktor kunci. Ini menunjukkan bahwa aksesibilitas sangat berpengaruh ketika perusahaan menentukan lokasi kantor mereka.
Pentingnya Kualitas Gedung dalam Pasar Perkantoran
Pergeseran preferensi penyewa menjadi kunci dalam menganalisis pasar perkantoran Jakarta. Perusahaan kini lebih mempertimbangkan kualitas bangunan, pengelolaan gedung, serta standar keberlanjutan seperti green building dan ESG.
Hal ini berarti bahwa persaingan antar gedung tidak lagi hanya berdasarkan tarif sewa, melainkan juga pada faktor kualitas. Gedung dengan kualitas yang lebih baik berpeluang besar dalam mempertahankan penyewa.
Sementara itu, pemilik gedung yang tidak berinovasi dalam kualitas harus menawarkan insentif atau fleksibilitas sewa untuk tetap bersaing. Hal ini sudah terlihat sejak kuartal II 2026.
Ruang kosong di gedung premium hanya menyumbang kurang dari 10% dari total ruang kosong di CBD, menunjukkan adanya pergeseran tren ke arah gedung yang lebih berkualitas.
Tren Downsizing dan Ekspansi di Pasar Perkantoran
Perubahan tren juga datang dari sisi penyewa. Setelah pandemi, banyak perusahaan berstrategi untuk downsizing dan rightsizing. Mereka menghitung kembali kebutuhan ruang dan beralih ke gedung dengan luas yang lebih kecil atau lebih efisien.
Namun, seiring berjalannya waktu, ada perubahan paradigma. Memasuki tahun 2025, lebih banyak perusahaan mulai melakukan relokasi dan mencari gedung dengan kualitas lebih tinggi tanpa memperbesar luas kantor. Tren ini mendemonstrasikan bagaimana perusahaan beradaptasi dengan kondisi pasar.
Di kuartal III 2026, terlihat bahwa banyak perusahaan mulai mengurangi kasus downsizing. Beberapa sektor seperti energi, teknologi, dan logistik terlihat aktif meningkatkan kebutuhan ruang. Pergeseran ini menunjukkan bahwa cara pandang perusahaan terhadap kebutuhan ruang mulai berubah.
Dari sini, muncul pertanyaan baru: “Apakah kami memerlukan ruang tambahan untuk mendukung pertumbuhan bisnis kami?” Ini menjadi sinyal penting tentang harapan pasar ke depan.
Apa Arti Perubahan Ini bagi Pemilik Gedung
Pergeseran tren ini memaksa pemilik gedung untuk lebih selektif dalam mengambil strategi. Memiliki ruang kosong tidaklah cukup; aset harus memiliki daya tarik yang kuat agar perusahaan mau membayar untuk tinggal dalam jangka panjang.
Faktor-faktor seperti akses transportasi, kualitas bangunan, efisiensi energi, dan manajemen gedung menjadi semakin penting. Sementara itu, bagi perusahaan, kondisi saat ini memberikan peluang untuk relokasi dan mendapatkan gedung berkualitas dengan harga sewa yang kompetitif.
Namun, peluang ini tidak berlaku merata untuk semua aset. Pasar perkantoran Jakarta 2026 mungkin belum sepenuhnya pulih, tetapi tanda-tanda perbaikan mulai terlihat. Tenant semakin selektif, gedung premium memiliki posisi tawar lebih kuat, dan pelan-pelan, ekspansi mulai muncul kembali.









