Pasar pergudangan modern di Jabodetabek tengah mengalami dinamika yang signifikan. Meski tingkat hunian mencapai 96,4% pada kuartal III 2026, ini tidak otomatis mendorong kenaikan tarif sewa yang mencolok di sektor ini.
Laporan terbaru memberikan gambaran yang jelas mengenai rasio hunian dan perkiraan tarif sewa yang hanya akan mengalami sedikit peningkatan dalam waktu dekat. Banyak faktor yang berkontribusi pada situasi ini, termasuk aspek kompetisi dan biaya operasional yang harus ditanggung penyewa.
Ferry Salanto, sebagai Kepala Riset, menunjukkan bahwa meskipun tingginya okupansi menunjukkan permintaan yang kuat, tidak semua pemilik gudang dapat menaikkan tarif sewa dengan mudah. Ini menciptakan kondisi pasar yang lebih kompleks di tengah kenyataan bahwa permintaan tetap tinggi.
Untuk memahami lebih dalam situasi ini, mari kita eksplorasi lebih lanjut mengenai penyebab dan dampak dari kondisi pasar yang ada saat ini.
Memahami Kenaikan Hunian dan Stabilitas Tarif Sewa
Data menunjukkan bahwa tingkat hunian gudang modern di Jabodetabek telah meningkat dari 81,1% pada tahun 2020 menjadi 96,4% pada tahun 2026. Hal ini tentunya merupakan pertanda positif untuk sektor logistik di kawasan ini.
Rata-rata tarif sewa juga mengalami kenaikan, meskipun pertumbuhannya terhitung moderat. Dari Rp70.284 menjadi Rp77.578 per m² per bulan dalam periode yang sama, namun pertumbuhan tahunan majemuknya hanya berkisar pada 1,7%.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa meski permintaan gudang semakin meluas, hal itu tidak selalu berbanding lurus dengan kenaikan tarif sewa. Maka penting bagi pemilik untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi harga pasar.
Mengapa Biaya Total Sangat Penting bagi Penyewa?
Biaya okupansi keseluruhan menjadi aspek krusial yang diperhatikan oleh perusahaan logistik saat memilih penyewaan gudang. Tidak hanya tarif sewa yang diperhitungkan, tetapi juga biaya layanan dan operasional lainnya.
Sensitivitas terhadap total occupancy cost mempengaruhi keputusan penyewa dalam menentukan lokasi. Permintaan untuk logistic space tidak melulu soal harga sewa, melainkan juga efisiensi biaya lainnya yang terkait dengan operasi.
Dengan demikian, para pemilik gudang tidak dapat hanya berfokus pada okupansi tinggi untuk menaikkan tarif sewa. Menjaga daya saing harga menjadi sangat penting mengingat tingginya persaingan dalam industri ini.
Koridor Timur: Pusat Utama Pergudangan Modern
Secara geografis, Koridor Timur Greater Jakarta menjadi area dominan untuk pasar gudang modern. Termasuk Bekasi, Cibitung, Cikarang, dan Karawang, kawasan ini memegang sekitar 74% dari total pasokan pergudangan di wilayah tersebut.
Faktor-faktor seperti akses jalan tol yang baik dan ekosistem industri yang sudah terbangun menjadi kunci keberhasilan kawasan ini. Inilah yang menyebabkan Koridor Timur tetap menjadi lokasi pilihan bagi banyak perusahaan.
Apabila melihat proyeksi ke depan, sekitar 83% dari pasokan baru yang direncanakan hingga 2029 akan berlokasi di Koridor Timur, namun hal ini juga mengarah pada peningkatan persaingan antara pengembang di area yang sama.
Proyeksi Pasokan Baru yang Berpotensi Memengaruhi Pasar
Mulai tahun 2027, diperkirakan akan ada tambahan pasokan baru gudang modern, memberikan harapan sekaligus tantangan bagi pemilik properti. Pemilik harus berhati-hati dalam menaikkan tarif sewa secara agresif.
Penambahan pasokan ini berpotensi membuat penyewa memiliki lebih banyak pilihan, terutama jika proyek baru menawarkan keunggulan dalam hal lokasi dan spesifikasi. Tentunya, hal ini akan menambah kompleksitas market yang ada.
Seiring dengan tingginya tingkat hunian, permintaan untuk ruang pergudangan modern tetap terjaga. Berbagai sektor, seperti e-commerce dan FMCG, tumbuh pesat dan mencari kebutuhan ruang yang lebih efisien.
Dampak Tingkat Hunian Tinggi terhadap Kekuatan Harga
Kendati tampaknya tingkat hunian tinggi menunjukkan kekuatan permintaan, kemampuan pemilik untuk menaikkan tarif sewa sangat tergantung pada atribut properti itu sendiri. Akses yang baik, spesifikasi bangunan yang sesuai, dan biaya operasional yang terkelola dengan baik, semua memainkan peranan penting.
Ferry Salanto mengungkapkan bahwa situasi pasar saat ini adalah paradoks. Meski kapasitas hunian hampir penuh, penguasaan harga atau pricing power yang merata masih belum tercapai di semua properti.
Pemilik gudang perlu melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap aset yang dimiliki serta mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang bisa mempengaruhi daya saing, terutama dengan tambahan pasokan yang diproyeksikan di masa depan.








