Sejarawan Bonnie Triyana yang juga merupakan anggota Komisi X DPR, mengungkapkan pandangannya mengenai dampak kolonialisme terhadap masyarakat Indonesia masa kini. Ia berpendapat bahwa warisan kolonialisme masih membekas dalam bentuk mentalitas feodalisme yang mengendalikan hubungan sosial antara penguasa dan rakyat.
Pernyataan tersebut disampaikan Bonnie dalam sebuah diskusi yang diadakan di Amsterdam, memperingati berakhirnya Perang Dunia II. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh suatu media dan lembaga kajian yang berfungsi untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang efek sejarah pada masa kini.
Bonnie menekankan bahwa kolonialisme Belanda, khususnya melalui perusahaan dagang VOC, telah menciptakan pola patronase yang merugikan rakyat. Hubungan antara elite dan rakyat ibarat hubungan patron-klien yang menekan kebebasan individu.
Mewarisi Mentalitas Feodalisme dari Kolonialisme
Dalam uraian yang lebih mendalam, Bonnie mengungkapkan bagaimana kolonialisme telah merawat mentalitas feodalisme dalam masyarakat. Ia menegaskan bahwa pola hierarki yang terbentuk oleh kekuasaan kolonial masih relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Tak hanya itu, ia juga merujuk pada tokoh Ki Hadjar Dewantara, yang diasingkan karena kritiknya terhadap kebijakan kolonial. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi pada masa itu adalah sesuatu yang sangat mahal.
Dengan pernyataan ini, Bonnie menggugah kesadaran tentang kesenjangan yang masih ada dan pentingnya untuk memahami sejarah sebagai sarana untuk mengubah dinamika sosial hari ini.
Pandangan Kritis Terhadap Sejarah Kolonialisme
Bonnie dengan tegas mengkritik perspektif Belanda yang menganggap era VOC sebagai masa kejayaan. Menurutnya, kejayaan yang dimaksud tidak bisa dipisahkan dari eksploitatif dan kekerasan yang dilakukan terhadap warga pribumi.
Ia menegaskan bahwa meskipun era kolonialisme telah berakhir, efeknya masih bertahan dalam praktik diskriminasi serta eksklusi sosial. Mentalitas kolonial masih hidup dalam tindakan yang melanggengkan ketidakadilan.
Melalui kritik ini, ia berharap adanya kesadaran kolektif untuk merefleksikan dan merubah pandangan masyarakat terhadap sejarah, sehingga dapat membuka jalan menuju keadilan sosial yang lebih baik.
Perluasan Perspektif dalam Pemahaman Sejarah
Bonnie mendorong dialog antara Indonesia dan Belanda untuk mencapai kesepahaman yang lebih baik mengenai sejarah. Menurutnya, pelajaran sejarah seharusnya mampu membebaskan diri dari trauma masa lalu, bukan menjadi penghalang bagi kemajuan.
Ia mengajak semua pihak untuk memutus rantai kekerasan yang pernah terjadi di masyarakat. Sejarah seharusnya tidak sekadar menjadi catatan, tetapi juga sebagai pelajaran berharga untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Dengan menyikapi sejarah secara kritis, masyarakat bisa mengenali kesalahan masa lalu dan memastikan agar tak terulang lagi. Hal ini penting dalam upaya menciptakan lingkungan sosial yang lebih adil dan egaliter untuk semua.








