Di Masjid Raya Negeri Sepa, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, tradisi kumpul uang yang dikenal sebagai ‘Salawate’ diadakan setiap tahun menjelang hari besar keagamaan. Pada tahun ini, acara ini berlangsung sebelum Salat Iduladha yang dijadwalkan pada Rabu, 27 Mei.
Tradisi ‘Salawate’ melibatkan partisipasi aktif masyarakat, dan mulai dilakukan dari saf terdepan oleh raja, serta tokoh agama dan adat. Kegiatan dimulai dengan dua muazin dan seorang marbot yang membawa sajadah dan berkeliling untuk mengumpulkan sumbangan dari jemaah.
Imam Masjid Negeri Sepa, Said Ahmad Bubakar, menjelaskan bahwa tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi. Pelaksanaan tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya komitmen masyarakat untuk melestarikannya hingga hari ini.
Pelaksanaan Tradisi ‘Salawate’ Sebelum Salat Iduladha
Tradisi ‘Salawate’ dimulai dengan pengumpulan uang dari para jemaah yang hadir di masjid. Uang yang terkumpul ini nantinya akan digunakan untuk mendukung pengelolaan masjid dan kebijakan keagamaan setempat.
Uang yang disumbangkan bersifat sukarela, dan para jemaah menyatakannya dengan tulus dan ikhlas. Hal ini membuktikan bahwa komunitas ini sangat mendukung keberlangsungan kegiatan keagamaan mereka.
Setelah pengumpulan uang selesai, Salat Iduladha pun dimulai dengan imam Muhammad Daut Sopalatu memimpin jalannya ibadah. Proses pelaksanaan salat berjalan khidmat dan penuh makna bagi semua yang turut hadir.
Makna dan Pelajaran dalam Khotbah Kiai Haji Ali Mahfudz
Pimpin Pondok Pesantren Darussalam An Nasr, Kiai Haji Ali Mahfudz, memberikan khotbah yang mengingatkan jemaah akan sejarah Iduladha. Dalam khotbahnya, beliau menekankan pentingnya merenungkan kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, yang menjadi simbol pengorbanan yang penuh cinta.
Beliau juga mengajak semua jemaah untuk saling mengasihi seperti saudara. Kesadaran akan ikatan di antara mereka diharapkan menjadi dasar bagi masyarakat untuk saling mendukung dan memaafkan satu sama lain.
Kiai Haji Ali Mahfudz berharap, perayaan Iduladha kali ini dapat dijadikan momentum bagi warga Negeri Sepa untuk melakukan introspeksi diri dan berusaha mencapai kemenangan spiritual dan sosial.
Ritual Setelah Salat Iduladha yang Penuh Emosi
Usai melaksanakan Salat Id, tradisi dilanjutkan dengan saling berjabat tangan sebagai simbol memperkuat hubungan antarwarga. Momen ini diisi dengan pelukan hangat, menandakan saling memaafkan di tengah keharuan menyambut hari penuh berkah.
Para jemaah mengambil waktu sejenak untuk mengenang dan mendoakan orang tua mereka yang telah tiada. Ini menunjukkan betapa pentingnya menghargai warisan serta nilai-nilai keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
Akhir dari rangkaian tradisi ini adalah dengan menggelar tahlil dan memanjatkan doa. Kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan antar warga, tetapi juga mendalamkan rasa syukur atas segala Rahmat yang telah diberikan.









