Dalam beberapa pekan terakhir, keadaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan telah menimbulkan perhatian serius. Dengan luas area terbakar yang terus meluas, situasi ini bukan hanya menjadi ancaman lingkungan, tetapi juga mempengaruhi kualitas hidup masyarakat sekitar.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, data terbaru menunjukkan bahwa total lahan yang terbakar di kedua provinsi tersebut mencapai lebih dari 343 hektare. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, sangat dibutuhkan untuk mengatasi bencana ini secara efektif.
Kualitas udara di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan kini berada pada kategori berbahaya. Penurunan drastis dalam jarak pandang di bandara juga menjadi isu krusial, dengan kondisi mencapai 0,2 kilometer di Kalteng dan 0,3 hingga 7 kilometer di Sumsel.
Pemerintah daerah dan tim pemadam kebakaran berupaya keras melakukan pemadaman di lokasi-lokasi yang paling parah terdampak. Namun, tantangan besar muncul ketika jarak pandang yang buruk menghambat operasi pemadaman dari udara, yang biasanya lebih efektif.
Upaya Pemadaman Kebakaran Hutan yang Berlanjut di Kalimantan Tengah
Di Kalimantan Tengah, data terbaru menunjukkan bahwa kebakaran telah meluas hingga mencakup 64,8 hektare di 49 lokasi pada 11 Oktober 2026. Dari total luas kebakaran, tim pemadam telah berhasil mengendalikan situasi di 38 lokasi dengan luas yang dipadamkan mencapai 54 hektare.
Berdasarkan laporan yang diterima, masih terdapat 10,8 hektare lahan yang terbakar di 11 lokasi berbeda, yang menjadi fokus utama untuk operasi pemadaman selanjutnya. Jenis kebakaran yang terjadi bervariasi, memerlukan pendekatan yang berbeda dalam penanganannya.
Pemadaman dilakukan melalui operasi darat dengan melibatkan petugas dari berbagai instansi terkait. Namun, hambatan terbesar datang dari kondisi cuaca yang tidak mendukung, membuat operasi udara sulit dilaksanakan.
Data Titik Panas dan Hendakan Terhadap Kualitas Udara
Data yang dihimpun oleh BNPB menunjukkan adanya 74 titik panas dengan tingkat keparahan tinggi di Kalimantan Tengah. Sementara secara total, tercatat sekitar 3.908 titik panas yang tersebar di berbagai daerah, menunjukkan potensi kebakaran lebih lanjut yang perlu diwaspadai.
Kondisi ini makin memperburuk kualitas udara di wilayah tersebut, berdampak negatif pada kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan karhutla harus dijadikan prioritas utama di seluruh lini.
Berbagai langkah telah diambil, termasuk penggunaan teknologi Modifikasi Cuaca untuk menciptakan hujan buatan. Harapannya, teknologi ini dapat membantu meringankan beban yang dihadapi pemadam kebakaran di lapangan.
Situasi Karhutla di Sumatera Selatan yang Tidak Kalah Mengkhawatirkan
Di Sumatera Selatan, kondisi serupa juga terjadi dengan luas area yang terbakar mencapai 278,75 hektare. Pada tanggal yang sama, para petugas lapangan berhasil memadamkan sekitar 271,85 hektare dari total tersebut, namun 6,90 hektare masih dalam proses penanganan.
Di kawasan ini, BNPB mencatat ada 121 titik panas dengan tingkat keparahan tinggi. Dengan total 1.991 titik panas yang teridentifikasi, situasi ini semakin memperlihatkan urgensi penanganan yang cepat dan tepat.
Untuk mendukung operasi pemadaman, metode water bombing atau pengeboman air sudah direncanakan. Namun, hal ini masih terhambat oleh rendahnya jarak pandang akibat asap dan kualitas udara yang buruk.
Operasi Modifikasi Cuaca sebagai Solusi Sementara di Sumatera Selatan
Upaya penanganan lebih lanjut dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pada 12 Oktober 2026, dilakukan satu sorti OMC dengan penggunaan 800 kilogram natrium klorida, yang diharapkan dapat memicu hujan lokal.
Secara keseluruhan, total penggunaan natrium klorida dalam operasi ini mencapai 3.600 kilogram selama periode antara 9 hingga 11 Oktober. Akumulasi operasi OMC menunjukkan komitmen bersama dalam mengatasi bencana ini secara cepat.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari kebakaran, baik terhadap lingkungan maupun masyarakat. Dalam situasi darurat seperti ini, kerjasama lintas sektor menjadi kunci untuk mencapai hasil yang diinginkan.









