Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto baru-baru ini mengungkapkan temuan mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Penemuan ini disampaikan dalam rapat terbatas yang membahas penanganan karhutla pada Senin malam, dengan dihadiri oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam jatuhnya laporan tersebut, Suharyanto menginformasikan bahwa area terbakar terbesar terdeteksi di Kalimantan Tengah. Menurutnya, kebakaran baru-baru ini ditemukan di Taman Nasional Tanjung Puting, tepatnya di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan.
“Per hari ini terdapat 513,89 hektare yang terbakar. Meskipun bukan lahan gambut, tetapi lahan mineral,” jelas Suharyanto dalam rapat yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden.
Situasi Kebakaran Hutan di Kalimantan Tengah dan Lainnya
Dalam rapat tersebut, Suharyanto mengungkapkan fakta bahwa masih ada 639,23 hektare lahan lainnya yang juga sedang terbakar dan dalam proses pemadaman. Kebakaran ini menyebar di enam provinsi di Indonesia yang terpapar dampak serius dari bencana tersebut.
Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan telah menjadi dua provinsi yang paling menjadi fokus dalam penanganan saat ini. Pihak BNPB berupaya semaksimal mungkin untuk menjangkau titik-titik api yang tersebar di wilayah tersebut.
“Kami telah mengerahkan Satgas Udara, namun kondisi visibility yang sangat tebal masih menjadi penghalang,” ungkapnya. Operasi udara yang dilakukan dengan menggunakan water bombing juga terhalang oleh rendahnya jarak pandang di Kalimantan Tengah.
Upaya Pemadaman dan Penanganan Karhutla
Pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah kini sangat bergantung pada operasi darat, mengingat kendala yang dihadapi dalam operasi udara. Suharyanto menذكرkan bahwa Sumatra Selatan baru dapat mengaktifkan penerbangan untuk pemadaman hari ini dan akan dipadukan dengan operasi modifikasi cuaca.
Armada pemadaman juga dikerahkan dari Pangkalpinang, dengan empat pesawat beroperasi di Kalimantan Tengah dan dua di Sumatra Selatan. Aktivitas pemadaman ini bukan hanya untuk menghentikan kebakaran, tapi juga untuk mencegah bencana lebih parah yang dapat memengaruhi lingkungan.
Kondisi di Kota Palembang, Sumatra Selatan, juga kritis. Kabut asap tebal muncul di pagi hari dan terus menutupi kota, membuat ikon seperti Jembatan Ampera nyaris tak terlihat dari kejauhan.
Dampak Kesehatan dan Lingkungan akibat Karhutla
Kabut asap yang membungkus Kota Palembang bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan masyarakat. Pengendara di jalan-jalan utama diwajibkan lebih berhati-hati untuk menghindari kecelakaan akibat rendahnya visibilitas tersebut.
Warga setempat mengeluhkan berbagai gejala kesehatan seperti iritasi mata, kesulitan bernapas, dan tenggorokan yang kering. Hal ini menunjukkan bahwa bencana karhutla dapat menimbulkan dampak serius yang melampaui kerusakan lingkungan.
Di Kalimantan Barat, kerusakan akibat kebakaran juga memaksa penyelamatan 46 individu orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Operasi penyelamatan ini melibatkan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia untuk melindungi satwa yang terancam.
Langkah-langkah Konservasi Satwa yang Terkena Dampak
Proses penyelamatan orang utan ini merupakan langkah penting, namun menyiapkan habitat baru bagi mereka menjadi tantangan tersendiri. Menurut Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, 46 orang utan telah diselamatkan dari habitat yang terbakar sejak awal Agustus hingga 9 Oktober.
Dari individu yang diselamatkan, delapan di antaranya yang sudah dalam kondisi sehat telah dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu. Sudah selayaknya upaya konservasi dituntut untuk lebih intensif dan sistematis mengingat faktor habitat yang semakin memprihatinkan.
Upaya penyelamatan seperti ini harus terus didorong agar keberadaan satwa dilindungi tetap terjaga di tengah ancaman kebakaran hutan. Kesadaran masyarakat mengenai dampak karhutla terhadap fauna perlu ditingkatkan untuk mencegah bencana serupa di masa depan.








