Perusahaan energi terbarukan, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), baru saja menarik perhatian pasar dengan mendapatkan investasi sebesar SGD555 juta, yang setara dengan Rp7,77 triliun. Investasi ini berasal dari HPS Investment Partners, yang merupakan bagian dari BlackRock, dan membuka peluang yang besar untuk ekspansi bisnis pengelolaan limbah di kawasan Asia.
Pengolahan limbah kerap kali identik dengan pengolahan sampah menjadi energi listrik. Namun, bisnis pengelolaan limbah mencakup rantai nilai yang lebih luas, mulai dari pengumpulan hingga pemanfaatan kembali. TOBA memilih untuk tidak terlibat dalam proyek pengolahan sampah menjadi listrik yang sedang dikembangkan Danantara, dan lebih fokus pada pengelolaan sampah terintegrasi dengan cakupan regional.
Informasi dari sumber resmi TOBA menyebutkan bahwa perusahaan ini menawarkan berbagai layanan dalam pengelolaan limbah, termasuk pengumpulan, pemilahan, serta pemanfaatan limbah medis dan industri. Melalui model bisnis terintegrasi yang mereka jalankan, TOBA dapat menghasilkan berbagai sumber pendapatan untuk mendukung keberlanjutan bisnisnya.
Peluang Ekspansi dalam Bisnis Pengelolaan Limbah
Model bisnis pengelolaan limbah yang diterapkan oleh TOBA sangat menjanjikan, terutama dalam konteks pertumbuhan di kawasan Asia. Analis dari NH Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi, menekankan pentingnya melihat model ini lebih menyeluruh. Setiap bagian dalam rantai pengelolaan limbah menawarkan potensi pertumbuhan yang lebih luas dibandingkan proyek pembangkit listrik tenaga sampah semata.
“Pengelolaan limbah meliputi banyak aspek, seperti pengumpulan, pemilahan, daur ulang, dan pengolahan akhir,” jelas Leonardo. Setiap tahapan dalam proses ini memiliki potensi pendapatan yang bisa dimaksimalkan, sehingga menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam bagi perusahaan.
Dalam konteks itu, pengembangan fasilitas dan akuisisi perusahaan sejenis menjadi strategi kunci bagi TOBA. Pendanaan dari HPS akan digunakan untuk mendukung pertumbuhan bisnis ini secara organik maupun melalui akuisisi. Dengan langkah ini, TOBA pada akhirnya dapat memperluas jaringan dan meningkatkan efisiensi operasionalnya.
Bisnis TOBA di Singapura sebagai Contoh Sukses
TOBA juga menjalankan bisnis pengelolaan limbah yang sukses melalui Cora Environment, yang sebelumnya dikenal sebagai Sembcorp Environment. Cora menyediakan layanan pengumpulan sampah rumah tangga dan industri, serta pemilahan dan daur ulang melalui fasilitas material recovery.
Fasilitas Energy-from-Waste (EfW) yang dioperasikan oleh Cora mampu mengolah sekitar 360.000 ton limbah per tahun, menghasilkan sekitar 1,2 juta ton uap industri. Uap ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri di Jurong Island, Singapura, dan menunjukkan bahwa pengolahan limbah dapat dilakukan secara efektif.
Dengan memanfaatkan panas dari pembakaran sampah, Cora tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga menyediakan uap bertekanan tinggi. Hal ini menegaskan bahwa energi bukan satu-satunya hasil dari pengolahan sampah, tetapi bagian dari model bisnis yang lebih besar.
Pengelolaan Limbah Medis dan Industri di Asia
Selain Cora, TOBA juga memiliki Asia Medical Enviro Services (AMES), yang fokus pada pengelolaan limbah medis di Singapura. Di Indonesia, PT Arah Environmental Indonesia beroperasi dalam pengelolaan limbah medis dan rumah tangga di lebih dari 15 provinsi.
Kombinasi dari ketiga perusahaan ini berhasil mengumpulkan sekitar 760.000 ton limbah dalam semester pertama tahun 2026. Cora sendiri melayani lebih dari 470.000 rumah tangga dan bisnis, menandakan adanya strategi yang solid dalam pengelolaan limbah di kawasan ini.
Leonardo menekankan, dengan keberagaman layanan ini, TOBA berada pada posisi ideal untuk membangun sumber pendapatan yang berkelanjutan dan menawarkan efisiensi melalui integrasi operasional.
Strategi Masa Depan dan Keberlanjutan Bisnis
Strategi perusahaan dalam memperluas bisnis pengelolaan limbah di kawasan Asia menunjukkan visi jangka panjang yang baik. TOBA sudah menyatakan bahwa pengembangan proyek seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang digagas Danantara tidak menjadi prioritas perusahaan. Hal ini menandakan fokus yang jelas pada pengelolaan sampah terintegrasi.
Rencana investasi HPS yang dapat mencapai Rp7,77 triliun memberi harapan bagi TOBA untuk memperkuat posisinya di pasar pengelolaan limbah di Asia. Memperluas jaringan operasional adalah langkah penting untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi bisnis mereka.
Dengan keberadaan infrastruktur dan jaringan pengumpulan yang lebih baik, TOBA diharapkan dapat memperkuat daya saing dan profitabilitas dalam jangka panjang. Setiap langkah yang diambil akan menambah modal penting bagi pertumbuhan perusahaan di masa depan.









