Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) telah mengambil langkah konkret untuk mengatasi keluhan masyarakat mengenai masalah keterlambatan pembangunan serta penyerahan unit Apartemen LRT City. Tindakan tersebut dilakukan setelah adanya 17 laporan resmi yang diterima dari konsumen melalui saluran pengaduan yang telah disediakan.
Menanggapi hal ini, Menteri PKP Maruarar Sirait mengintruksikan Inspektorat Jenderal untuk mengadakan forum mediasi. Dalam forum tersebut, manajemen PT Adhi Commuter Properti Tbk bertemu dengan perwakilan konsumen untuk mencari penyelesaian yang optimal.
Berdasarkan data internal, tercatat bahwa jumlah konsumen yang belum menerima unit apartemen mencapai angka yang cukup signifikan. Sebagian besar konsumen dijanjikan serah terima antara tahun 2023 hingga 2024, namun hingga saat ini banyak yang masih menunggu tanpa kepastian yang jelas.
Dalam suasana mediasi yang tegang, Maruarar menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam penyelesaian masalah ini. Dia ingin agar proses ini dilakukan secara komprehensif dan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
“Penting bagi Kementerian PKP untuk memfasilitasi permasalahan ini dengan tegas dan tanpa kompromi demi kepentingan masyarakat,” ujarnya. Maruarar juga menginstruksikan untuk segera membentuk kelompok komunikasi guna mendalami kronologis kasus ini lebih lanjut.
Kisah Para Konsumen yang Menghadapi Masalah Serupa
Di balik angka besar konsumen yang terdampak, ada cerita pilu dari mereka yang kini terjebak dalam situasi sulit. Salah seorang konsumen wanita berbagi pengalamannya mengenai pembayaran KPA yang terpaksa dilakukan tanpa memperoleh unit yang dijanjikan. Dia mengaku taat dalam melakukan pembayaran dan sudah menunggu sampai Mei 2025.
Akan tetapi, ketika bulan serah terima tiba, ia mendapati bahwa proyek tersebut terhenti tanpa ada kejelasan. Ia pergi ke lokasi dan menemukan bahwa tidak ada aktivitas pembangunan yang berlangsung. Kekecewaan itu terungkap saat ia menceritakan betapa sulitnya situasi yang harus ia hadapi.
“Setelah situasi ini, saya terpaksa menunda pembayaran karena tidak ada kemajuan. Namun, pihak bank terus menghubungi saya untuk menagih,” tambahnya. Ia merasa malu karena harus dihadapkan pada situasi tersebut, khususnya di tempat kerjanya.
Kondisi pembangunan di berbagai proyek menunjukkan ketidakmerataan, dengan beberapa lokasi yang maju dan lainnya terhenti total. Hal ini tentunya menciptakan kegelisahan di antara konsumen yang telah menginvestasikan dana mereka.
- LRT City Ciracas & LRT City Tebet: Mencapai tahap topping off, namun interior dan fasilitas pendukung belum dikerjakan sejak pasca-Lebaran 2025.
- LRT City Cibubur: Masih sebatas lahan kosong, tanpa adanya aktivitas pembangunan.
- Proyek Lain: Terdapat perwakilan dari berbagai kompleks apartemen di forum yang sama, menambahkan keterangan bahwa mereka juga mengalami masalah serupa.
Pernyataan Resmi dari Manajemen ADCP Mengenai Keterlambatan
Menanggapi dampak yang dirasakan konsumen, Direktur Operasi ADCP memberikan permohonan maaf secara resmi atas keterlambatan yang terjadi. Pihaknya mencatat bahwa permasalahan ini telah menimbulkan ketidaknyamanan yang serius bagi semua pihak yang terlibat.
“Kami sangat menyesalkan keterlambatan yang terjadi dalam proyek ini. Kami mengerti bahwa situasi ini menjadi perhatian utama bagi konsumen kami,” paparnya. Penjelasan lebih lanjut dari manajemen adalah bahwa tekanan likuiditas dan perubahan internal menjadi faktor penyebab utama keterlambatan tersebut.
Namun, meski dalam kondisi sulit, ADCP menegaskan bahwa semua aset proyek tetap terjamin dan operasional perusahaan masih berjalan. Dalam upaya mencarikan solusi, mereka juga menawarkan pilihan bagi konsumen yang membutuhkan tempat tinggal segera.
Opsi yang ditawarkan termasuk skema pinjam pakai unit dari proyek lain yang sudah selesai dibangun serta opsi migrasi ke unit lain yang setara. Namun, tuntutan untuk pengembalian dana penuh sampai saat ini masih belum dapat dipenuhi pihak perusahaan karena keterbatasan arus kas.
Langkah Selanjutnya dan Sikap Lembaga Perlindungan Konsumen
Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional menekankan bahwa keadaan ini harus ditangani secara darurat dan responsif. Dia mengingatkan pentingnya untuk memberikan layanan penyelesaian yang segera kepada konsumen yang dirugikan.
Dia berharap agar proses mediasi yang dilakukan oleh Kementerian PKP tidak hanya menghasilkan penyelesaian cepat, tetapi juga berujung pada solusi yang saling menguntungkan. Ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi konsumen yang terlanjur dirugikan.
Kementerian PKP juga telah merencanakan pertemuan lanjutan untuk membahas lebih jauh mengenai solusi konkrit dan pemetaan masalah. Mereka juga akan melibatkan bank penyedia KPA untuk mendiskusikan opsi cicilan bagi konsumen yang tengah dalam kesulitan.
Dalam konteks ini, penting bagi semua pihak untuk saling bekerja sama agar masalah yang ada dapat diselesaikan dengan baik. Apabila kolaborasi ini terbentuk, diharapkan akan tercapai keadilan bagi para konsumen yang menantikan kepastian atas investasi mereka.









