Wilayah Pulau Flores dan sekitarnya di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih merasakan dampak dari serangkaian gempa yang terjadi sejak gempa besar berkekuatan Magnitudo 7,7 pada bulan Agustus tahun ini. Kejadian ini telah menimbulkan berbagai efek terhadap masyarakat dan lingkungan serta menyisakan rasa cemas di kalangan penduduk setempat.
Memasuki bulan Oktober, gelombang getaran gempa masih terus berlanjut. Pada hari Senin, 19 Oktober, tercatat beberapa gempa dengan intensitas yang bervariasi, mencakup kekuatan mulai dari M4,5 hingga M4,8, yang terasa di Kabupaten Manggarai.
Gempa-gempa ini terletak di perairan utara Labuan Bajo, dengan jarak sekitar 45 hingga 60 kilometer dari daratan. Sebagian besar penduduk merasakan dampaknya, meskipun dalam skala yang bervariasi.
Situasi Terkini di Manggarai Barat Mengenai Aktivitas Seismik
Dua dari tiga gempa terbaru memiliki kedalaman sekitar 5 kilometer di bawah permukaan tanah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa tidak ada potensi tsunami meskipun gelombang seismik ini masih terjadi hingga saat ini.
Pada hari Minggu, 18 Oktober, juga tercatat gempa paling kuat dengan Magnitudo 5,3 yang menggemparkan wilayah sekitar. Pusat gempa berada di laut, sekitar 60 kilometer dari Labuan Bajo dan kedalamannya mencapai 10 kilometer.
Gempa yang terjadi pada akhir pekan lalu dirasakan dengan skala MMI IV-V di Manggarai dan III di Kabupaten Manggarai Barat serta Bima, yang menunjukkan dampak merata di berbagai daerah.
Penjelasan dari Pihak Berwenang Mengenai Kegempaan
Berdasarkan keterangan dari Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, ketiga peristiwa gempa ini merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan 7,7 pada 15 Agustus. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika di kawasan tersebut masih berlangsung.
Arief menjelaskan bahwa aksi kegempaan adalah proses wajar dalam pelepasan energi pascagempa utama. Sampai saat ini, tercatat sudah lebih dari 22.300 kali gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2.
Fenomena ini disebabkan oleh aktivitas sesar Flores Back-Arc Thrust, di mana pergerakan sedang berlangsung. Meskipun tidak ada ancaman bencana tsunami, dia menekankan pentingnya kewaspadaan di kalangan masyarakat.
Kesadaran Masyarakat dan Saran dari BMKG
Pihak BMKG mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan menghindari bangunan yang mengalami keretakan akibat gempa sebelumnya. Kewaspadaan ini penting untuk meminimalisir risiko yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Dia juga menekankan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak jelas sumbernya. Memantau perkembangan situasi hanya melalui kanal resmi seperti BMKG adalah langkah yang bijak.
Penting bagi seluruh pihak untuk saling membantu dan berbagi informasi agar tidak terjadi kepanikan di kalangan masyarakat. Bekerjasama dalam menghadapi situasi yang sulit ini menjadi kunci untuk mengatasi segala tantangan yang ada.









