Pada tanggal 30 September 2026, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi mengumumkan susunan kepengurusan baru untuk masa khidmah 2026-2031. Pengumuman ini menjadi sorotan, mengingat banyak nama-nama penting yang terlibat dalam struktur kepengurusan ini.
Dalam muktamar ke-35 yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, terdapat 33 nama yang ditetapkan sebagai Mustasyar PBNU. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi keagamaan ini tetap berkomitmen untuk melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh dalam kepengurusannya.
Ketua Umum PBNU, Abdul Hakim Mahfudz atau yang lebih dikenal dengan Gus Kikin, memimpin pengumuman ini, yang turut didampingi oleh Rais Aam KH Miftachul Achyar. Struktur baru ini terdiri dari 210 orang, meningkat dari periode sebelumnya yang berjumlah 189 orang.
Pengurus PBNU dan Tokoh-Tokoh Terkenal yang Terlibat
Di antara nama-nama yang masuk dalam jajaran Mustasyar, terdapat tokoh-tokoh seperti Ahmad Mustofa Bisri, Jusuf Kalla, dan Said Aqil Siroj. Kehadiran mereka menunjukkan pengakuan atas pentingnya peran individu berpengalaman dalam pengembangan organisasi.
Selain itu, sosok istri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yaitu Nyai Hj. Shinta Nuriyah A. Wahid, juga turut dalam kepengurusan ini. Kehadiran para tokoh ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif bagi arah dan kebijakan PBNU ke depan.
Adanya nama-nama besar seperti Moh. Mahfud MD dan A.S Hikam menambah daya tarik kepengurusan kali ini. Dengan pengalaman dan pemikiran mereka, diharapkan PBNU dapat lebih adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada saat ini.
Struktur PBNU yang Lebih Besar dan Beragam
Jumlah pengurus yang meningkat menjadi 210 orang menggambarkan upaya PBNU untuk menjangkau lebih banyak elemen masyarakat. Hal ini mencerminkan niat untuk lebih inklusif dan representatif, mengingat keragaman di Indonesia.
Dengan tambahan 21 orang dari periode sebelumnya, dapat diharapkan bahwa fokus dan perhatian terhadap isu-isu kunci di masyarakat akan semakin meningkat. Setiap pengurus diharapkan memiliki peran yang strategis dalam menjalankan misi dan visi organisasi.
Pemilihan pengurus juga mempertimbangkan regionalitas serta latar belakang pengalaman yang berbeda. Dengan demikian, kepengurusan PBNU dapat melayani lebih banyak kepentingan dari berbagai lapisan masyarakat.
Rencana dan Harapan PBNU untuk Masa Depan
Dari pengumuman kepengurusan, sejumlah program strategis diharapkan dapat diluncurkan untuk menjawab tantangan zaman. PBNU berencana untuk memperkuat pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial di berbagai daerah di Indonesia.
Pengurus yang baru diharapkan dapat lebih aktif dalam interaksi dengan masyarakat, terutama generasi muda. Program-program yang berbasis kepada pemberdayaan masyarakat akan menjadi fokus utama selama lima tahun ke depan.
PBNU juga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin berkembang pesat. Dengan adanya strategi komunikasi yang baik, organisasi ini bisa lebih efektif dalam menyampaikan pesan dan ide-ide mereka kepada masyarakat luas.








