Pengadilan Militer I-05 Palembang baru saja menggelar sidang perdana terkait kasus penembakan tragis yang melibatkan prajurit TNI di sebuah kafe di Palembang, Sumatera Selatan. Sidang ini menjadi perhatian banyak pihak, mengingat insiden tersebut berujung pada kematian seorang prajurit.
Sidang ini dilangsungkan untuk mendengar dakwaan terhadap Sertu Muhammad Rafy Ronald, yang didakwa atas tindakan penembakan yang menewaskan Pratu Feriskal Alfarizy Albesa. Kejadian ini berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026, saat suasana di kafe Panhead tiba-tiba memanas dan menjadi fatal.
Dalam dakwaan, Sertu Muhammad Rafy Ronald menghadapi beberapa pasal yang dikenakan atas tindakannya. Hal-hal ini menunjukkan betapa seriusnya implikasi hukum dari tindakannya yang dilakukan di tengah situasi yang mencekam.
Ulasan Awal Kasus Penembakan Anti-Militer di Palembang
Oditur Militer Mayor CJ Setiawan menjelaskan bahwa keributan di kafe tersebut bermula saat terdakwa mendekati Siti Kipia Medini, yang disebut sebagai adik angkatnya. Konflik meningkat ketika ada intervensi dari pihak lain yang tidak memahami situasi sebenarnya.
Ketika Siti meminta Sertu Muhammad untuk tidak mendekat, situasi semakin memburuk. Pratu Bintang Infantri diduga menendang kaki terdakwa, menyebabkan emosi kedua belah pihak meluap, dan keributan pun tak terhindarkan.
Akibat keributan yang semakin seru, kelompok lain ikut terlibat, termasuk Pratu Feriskal yang dampaknya merugikan semuanya. Dalam keadaaan terdesak dan terancam, Sertu Muhammad meraih senjatanya, yang kemudian mengarah pada tragedi yang lebih besar.
Detail Insiden dan Proses Penembakan yang Menghancurkan
Pukul 02.15 WIB, dalam kafe yang ramai, Sertu Muhammad yang sedang dalam posisi terjatuh berusaha untuk melindungi diri dari pukulan yang didapat. Tindakan ini berlangsung dalam waktu yang cepat, dan setelah menembakkan senjata, ia menyaksikan dampak fatal dari aksinya.
Dari jarak sekitar setengah meter, ia menarik pelatuk senjatanya saat Pratu Feriskal sedang membungkuk. Tembakannya mengena di perut membuat korban menjauh seketika, sebuah tindakan yang tak bisa dibayangkan sebelumnya.
Upaya agar situasi tidak semakin buruk agaknya telah sia-sia, saat seseorang mencoba merebut senjata dari tangan Sertu Muhammad. Ketegangan di tempat tersebut berlanjut, dan dalam kegilaan suasana itu, ia mempertahankan senjata untuk memastikan keselamatannya sendiri.
Pasca Insiden: Langkah Hukum dan Reaksi Masyarakat
Setelah penembakan, Sertu Muhammad mencoba melarikan diri dari lokasi kejadian. Ia ditemui oleh Fiki Samudra, sekuriti kafe, yang memberi kesaksian dalam sidang. Penyembunyian senjata api pun dilakukan dengan maksud untuk menghapus jejak dari insiden tragis tersebut.
Seorang prajurit lain, Pratu Candra, menemukan Pratu Feriskal dalam keadaan kritis dan segera membawanya ke rumah sakit. Sayangnya, nyawa Pratu Feriskal tidak bisa diselamatkan, dan hal ini memicu reaksi heboh di masyarakat.
Pihak keluarga korban merasa sangat kehilangan, dan dengan beredarnya berita ini, banyak yang beranggapan bahwa tindakan tegas harus diambil terhadap pelaku. Ini menciptakan suasana ketidakpuasan di kalangan anggota TNI dan masyarakat.








