Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan melaporkan bahwa sekitar 30 remaja sedang menjalani rehabilitasi akibat penggunaan rokok elektrik atau vape yang mengandung narkotika jenis sintesis. Kepala Bidang Pemberantasan dan Intelijen BNNP Sulsel, Kombes Pol Ardiansyah, menjelaskan bahwa para pengguna ini terutama berasal dari kalangan pelajar.
“Dari total tersebut, ada yang sudah lulus dan ada juga yang masih berstatus pelajar,” kata Ardiansyah. Hal ini menunjukkan bahwa dampak penggunaan zat terlarang ini sangat mempengaruhi generasi muda, yang seharusnya fokus pada pendidikan dan perkembangan diri.
Perubahan Modus Peredaran Vape Sintetis di Kalangan Remaja
Ardiansyah menjelaskan bahwa cara peredaran vape sintetis telah mengalami evolusi. Sebelumnya, cairan sintetis berpadu dengan tembakau, tetapi kini beralih menggunakan liquid yang sulit dikenali oleh petugas.
“Dulu, mereka mencampurkan cairan sintetis dengan tembakau untuk dijual. Sekarang, mereka menggunakan liquid vape agar penggunaannya tidak terdeteksi,” tambahnya. Hal ini patut menjadi perhatian serius bagi semua pihak terkait, terutama untuk mencegah semakin luasnya peredaran narkotika yang menargetkan anak-anak muda.
Menurutnya, banyak remaja yang tergoda menggunakan vape sintetis karena harganya yang terjangkau, yakni mulai dari Rp 10 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Harga yang relatif murah menyebabkan siswa sekolah mudah mengakses barang berbahaya ini.
Pentingnya Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Pencegahan
Dalam menghadapi permasalahan ini, Ardiansyah berharap peran aktif orang tua dan pihak sekolah sangat diperlukan. Mereka diharapkan dapat membantu mengawasi dan mencegah peredaran vape sintetis yang semakin marak di kalangan pelajar.
Melibatkan lingkungan pendidikan dalam upaya pencegahan merupakan langkah yang sangat penting. “Masyarakat harus bersatu dan peduli terhadap lingkungan sekitar agar tidak ada anak-anak yang terjerumus ke dalam pengaruh negatif,” ujar dia.
Berdasarkan pengamatan, banyak kasus yang muncul di sekitar sekolah. Diperlukan sinergi antara orang tua dan sekolah untuk bisa saling berkomunikasi dan bertindak tepat waktu ketika ada indikasi penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja.
Langkah Penegakan Hukum terhadap Pelaku Peredaran Narkotika
Ardiansyah menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan pengejaran terhadap para pelaku yang menjual perangkat dan cairan vape sintetis ini. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk mengambil keuntungan, tetapi juga untuk melindungi generasi muda dari kerusakan yang lebih besar.
“Kita akan terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian daerah agar penanganan kasus ini lebih efektif,” jelasnya. Selain itu, upaya kolaboratif antara aparat penegak hukum dan masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk memerangi peredaran narkotika.
Saat ini, keprihatinan akan banyaknya remaja yang terjerumus dalam dunia narkotika semakin meningkat. Oleh karena itu, kesadaran akan dampak negatif dari penggunaan zat berbahaya perlu ditingkatkan, terutama di kalangan pelajar.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Berdasarkan informasi yang telah disampaikan, sangat jelas bahwa masalah penggunaan vape sintetis di kalangan remaja memerlukan perhatian serius. Dengan melonjaknya angka pengguna, ada urgensi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya yang mengintai.
Harapan agar orang tua, guru, dan masyarakat dapat bersatu untuk melawan peredaran narkotika ini perlu ditingkatkan. Implementasi program-program edukasi tentang bahaya narkoba di sekolah-sekolah bisa menjadi langkah efektif untuk mengatasi masalah ini.
Ke depan, diharapkan minimnya peredaran narkotika di kalangan remaja dapat tercapai melalui sinergi antara berbagai faktor. Pendidikan yang baik dan dukungan dari orang tua serta lingkungan akan menjadi pondasi kokoh bagi generasi mendatang agar terhindar dari bahaya narkotika.









