Pasar properti sekunder di Indonesia mengalami dinamika yang menarik, terutama memasuki kuartal ketiga 2026. Berdasarkan data terbaru, ada pertumbuhan harga yang beragam di berbagai daerah, menciptakan tantangan dan peluang bagi para investor dan pencari hunian.
Data menunjukkan bahwa indeks harga rumah sekunder tumbuh sebesar 0,4% secara tahunan. Tetapi, angka ini tidak mencerminkan situasi di setiap wilayah, di mana beberapa kota bahkan melihat pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain.
Secara keseluruhan, sepuluh dari tiga belas kota yang diuji menunjukkan tren kenaikan harga. Namun, yang menarik adalah bahwa pertumbuhan paling signifikan kini tidak lagi terpusat di wilayah dekat ibu kota, melainkan di daerah-daerah yang menjadi pusat ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Tren Kenaikan Harga di Berbagai Kota di Indonesia
Kota Makassar mencatat kenaikan harga paling tinggi dengan pertumbuhan mencapai 10,2% secara tahunan. Pertumbuhan harga yang pesat ini menunjukkan bahwa permintaan untuk hunian di Makassar masih sangat kuat, mencerminkan daya tarik kota ini bagi para investor dan pembeli.
Di peringkat kedua, Denpasar mengalami pertumbuhan harga 3,5%, yang didorong oleh minat tinggi dari investor luar negeri. Kebijakan visa yang mendukung investasi asing juga berkontribusi pada perkembangan ini, menjadikan Denpasar sebagai pilihan menarik bagi investor.
Kota-kota lain di wilayah Jawa, seperti Bogor dan Surakarta, juga menunjukkan pertumbuhan, meskipun tidak secepat Makassar dan Denpasar. Bogor, spesifiknya, memiliki kenaikan harga 2,6% dan menjadi yang tertinggi dalam kawasan Jabodetabek, sedangkan Surakarta mencatat pertumbuhan stabil sebesar 3,3%.
Divergensi Harga di Jabodetabek dan Luar Jawa
Sementara beberapa kota menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan, di kawasan Jabodetabek terdapat perbedaan signifikan dalam laju pertumbuhan. Kota Bekasi dan Depok juga mengalami kenaikan, namun angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan kota-kota yang lebih unggul.
DKI Jakarta sendiri hanya menunjukkan kenaikan tipis di angka 0,2%, sementara Tangerang mengalami penurunan harga sebesar -0,1%. Situasi ini menandakan adanya pelemahan di beberapa kawasan yang sebelumnya menjadi favorit para pembeli.
Berdasarkan pemantauan harga, kita dapat melihat bahwa potensi pasar sekunder sangat bergantung pada karakteristik masing-masing kota. Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya melihat angka nasional, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lokal dalam mengambil keputusan investasi.
Peluang bagi Investor dan Pencari Hunian di Pasar Properti
Perbedaan pertumbuhan harga yang terjadi di berbagai daerah membuka peluang yang berbeda bagi masing-masing pasar. Bagi pencari hunian, wilayah yang stagnan atau mengalami penurunan harga dapat menjadi kesempatan untuk melakukan negosiasi yang menguntungkan sebelum terjadi perbaikan harga.
Di sisi lain, bagi investor, kota-kota seperti Makassar dan Denpasar menawarkan kemungkinan hasil yang tinggi. Ketertarikan yang terus menerus dari pembeli, baik domestik maupun asing, menunjukkan bahwa ada peluang besar untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu dekat.
Platform teknologi properti telah menjadi alat penting dalam membantu investor dan pembeli dalam menavigasi pasar. Akses pada data dan tren harga yang akurat dari berbagai wilayah memungkinkan pengguna untuk membuat keputusan yang lebih cerdas dan informatif.









