Pertemuan antara dua tokoh besar dalam Nahdlatul Ulama, Kiai Said Aqil dan Gus Kikin, menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU menjadi sorotan banyak pihak. Kedua pemimpin tersebut melakukan salat hajat di Tebuireng, yang menandai momen penting dalam persiapan pemilihan yang akan datang.
Kegiatan ini menunjukkan kedekatan serta komitmen mereka terhadap Nahdlatul Ulama. Pertemuan ini jarang terjadi dan tidak dapat dipandang remeh, mengingat latar belakang serta pengaruh keduanya dalam dunia NU.
Makna di Balik Pertemuan Kiai Said dan Gus Kikin
Pertemuan ini berlangsung di Ndalem Kasepuhan Tebuireng, tempat yang memiliki makna historis bagi pengikut NU. Kiai Said, yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode, terlihat menghormati tradisi dan sejarah pesantren Tebuireng.
Gus Kikin sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBNU memiliki latar belakang yang kuat sebagai pengasuh pesantren. Pertemuan ini menjadi sinyal positif mengenai persatuan di dalam komunitas NU, yang kadang terpecah karena perbedaan pendapat.
Dalam pertemuan ini, Kiai Said dan Gus Kikin tidak hanya salat hajat, mereka juga berbincang tentang visi dan misi NU ke depan. Diskusi ini diyakini dapat menguatkan sinergi dan keselarasan tujuan di antara mereka menjelang pemilihan mendatang.
Pentingnya Salat Hajat Sebelum Pemilihan
Salat hajat yang dilakukan oleh Kiai Said dan Gus Kikin bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menunjukkan harapan akan kelancaran dan kedamaian selama Muktamar berlangsung. Ritual ini menjadi bentuk pengharapan agar pemilihan Ketua Umum PBNU berjalan lancar tanpa konflik.
Kiai Said menekankan pentingnya muktamar sebagai ajang memperkuat persaudaraan di antara warga NU. Dia berharap agar muktamar bukan menjadi ajang pertikaian, melainkan memperkokoh tali silaturahmi di antara semua elemen.
Pertemuan dan salat hajat di tengah ikon sejarah NU, KH Hasyim Asy’ari, merupakan simbol keteguhan kita terhadap tradisi. Tindakan ini menjadikan suasana muktamar semakin khidmat menjelang pemilihan pimpinan.
Pernyataan Kiai Said Terkait Proses Muktamar NU
Usai pertemuan, Kiai Said mengungkapkan harapannya untuk muktamar yang aman dan damai. Dia menegaskan bahwa tidak ada permintaan spesifik yang dibawa pada pertemuan itu, selain keinginan agar seluruh rangkaian muktamar berjalan dengan baik.
Menurut Kiai Said, muktamar sejatinya harus menjadi ruang berkumpul yang mempertemukan semua elemen NU. Tetapi, ia juga mengingatkan agar tidak ada ketegangan yang muncul dari perbedaan pendapat di antara para peserta.
Dalam pandangannya, muktamar seharusnya menjadi ajang refleksi dan pencerahan bagi umat, bukan justru tempat pertikaian. Hal ini menunjukkan kebutuhan akan kerukunan dan persatuan di dalam tubuh NU yang semakin mendesak.









