Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta telah meningkatkan kesiapsiagaan mereka untuk menghadapi perubahan suhu yang disebabkan oleh fenomena El Niño di musim kemarau tahun 2026. Langkah ini sebagai respons terhadap prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan bahwa musim hujan akan datang lebih lambat dari biasanya.
Peningkatan kesiapsiagaan ini ditandai dengan adanya Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat yang bersiaga 24 jam. Mereka bertugas untuk memantau perkembangan kondisi cuaca dan mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat yang disebabkan oleh fenomena cuaca ekstrem.
Menurut Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD, Iswari Mahendrarko, langkah ini penting mengingat dampak cuaca ekstrem dapat berpengaruh pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Fenomena ini memerlukan perhatian ekstra agar masyarakat dapat tetap aman dan terhindar dari risiko yang mungkin terjadi.
Kesiapsiagaan BPBD dalam Menghadapi Cuaca Ekstrem di Yogyakarta
BPBD juga mengajak kepada masyarakat untuk mewaspadai potensi kekeringan serta kebakaran saat suhu udara meningkat. Terlebih, fenomena bediding, yang ditandai oleh suhu dingin pada malam hingga pagi dan panas saat siang, menjadi ciri khas saat puncak musim kemarau.
Iswari menjelaskan bahwa bediding ini akibat berkurangnya tutupan awan, yang memungkinkan panas matahari mencapai permukaan bumi lebih cepat. Hal ini menghasilkan perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam hari.
Perbedaan suhu ini bisa membuat masyarakat merasa tidak nyaman. Pada malam hari, udaranya terasa dingin dengan suhu berkisar antara 19 hingga 21 derajat Celsius, sedangkan di siang hari suhu bisa mencapai 31 hingga 32 derajat Celsius.
Risiko Kesehatan Terkait Perubahan Suhu yang Signifikan
Perubahan suhu yang tajam ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi masyarakat. Udara yang kering dan berdebu berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan gejala lainnya seperti batuk dan flu.
Suhu yang tinggi pada siang hari juga meningkatkan risiko dehidrasi dan heat stroke, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesehatan menjadi sangat penting.
Masyarakat diimbau untuk melakukan tindakan pencegahan. Mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan pada siang hari saat suhu tinggi adalah salah satu langkah bijak untuk menghindari risiko kesehatan.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Kebakaran Selama Musim Kemarau
Selain perubahan suhu, BPBD juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran saat musim kemarau. Vegetasi yang mengering dan suhu udara yang tinggi membuat kebakaran lebih mudah terjadi jika ada pemicu kelalaian.
Masyarakat diminta untuk tidak membakar sampah sembarangan dan tidak membuang puntung rokok di daerah kering. Kedua kebiasaan tersebut dapat dengan mudah memicu kebakaran yang membahayakan.
Iswari juga mengingatkan pentingnya memastikan bahwa instalasi listrik di rumah dalam kondisi baik. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kebakaran yang disebabkan oleh korsleting listrik.









