Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul, yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, baru-baru ini mengumumkan mengenai kondisi kesehatan hewan kurban yang terinfeksi penyakit cacing hati (Fasciola). Meski terdeteksi sebanyak 466 hewan dengan infeksi tersebut, pihak DKPP memastikan bahwa daging hewan-hewan ini masih dapat dikonsumsi dengan catatan tertentu.
Kepala DKPP Kabupaten Bantul, Joko Waluyodi, menjelaskan bahwa daging dari hewan yang terjangkit cacing hati masih dapat dimanfaatkan asalkan bagian yang terkena luka akibat infeksi tersebut dipotong dengan rapi dan dibuang. Dengan demikian, masyarakat agar tidak perlu khawatir berlebihan saat menyajikan daging kurban.
Penyakit cacing hati merupakan masalah umum yang muncul setiap tahun saat perayaan Hari Raya Iduladha. Masyarakat diimbau untuk memilih dan memeriksa hewan kurban dengan saksama untuk menjaga kesehatan keluarga saat mengonsumsi daging.
Joko juga mengingatkan bahwa bagian hewan yang terinfeksi cacing hati harus ditangani dengan baik sebelum diolah lebih lanjut. Prosedur yang tepat dalam menangani hewan kurban ini sangat penting untuk memastikan keamanan dan kesehatan konsumen saat menikmati daging.
Proses Perawatan Hewan Kurban yang Tepat
Menurut Joko, infeksi cacing hati pada hewan kurban ini umumnya disebabkan oleh proses perawatan yang kurang tepat, terutama dalam pemilihan pakan. Rumput yang terkontaminasi oleh bakteri akibat keberadaan siput kecil menjadi salah satu penyebab utama terjadinya infeksi ini.
Selain itu, penting untuk melakukan pemberian obat cacing pada hewan ternak dua hingga tiga bulan sebelum hari penyembelihan. Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalisir risiko infeksi cacing hati yang dapat mengganggu kesehatan hewan sebelum dijadikan sumber makanan.
Pemerintah daerah juga melakukan sosialisasi mengenai cara-cara untuk mencegah keberadaan cacing hati pada hewan kurban, termasuk pengawasan terhadap kebersihan dan pemilihan pakan yang harus dilakukan oleh para peternak.
Jika hewan ternak sudah terinfeksi, masyarakat diminta untuk membuang bagian yang terpapar cacing hati dan tidak mengonsumsinya. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan risiko penularan penyakit melalui daging yang dikonsumsi oleh masyarakat.
Statistik Penyembelihan Hewan Kurban di Bantul
Pada Iduladha tahun ini, data sementara menunjukkan bahwa Kabupaten Bantul berhasil menyelesaikan penyembelihan sebanyak 26.245 hewan kurban pada hari pertama perayaan tersebut. Ini merupakan angka yang mencerminkan tingginya animo masyarakat dalam berkurban setiap tahun.
Kegiatan penyembelihan tersebut tersebar di berbagai titik yang mencapai lebih dari dua ribu lokasi di seluruh Bantul. Dari total penyembelihan, terdapat beragam jenis hewan kurban yang dipilih oleh masyarakat, termasuk sapi, kambing, dan domba.
Rincian lebih lanjut menunjukkan bahwa dari 6.108 sapi yang disembelih, sekitar 330 ekor di antaranya terinfeksi cacing hati. Sementara itu, dari 5.418 kambing dan 14.719 domba, masing-masing terdeteksi 30 dan 106 ekor yang mengalami infeksi serupa.
Data ini menunjukkan betapa pentingnya pengawasan dan penanganan yang tepat terhadap hewan kurban, untuk memastikan daging yang dihasilkan aman dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Pentingnya Kesadaran terhadap Kesehatan Hewan Kurban
Kesadaran akan pentingnya memeriksa kesehatan hewan sebelum penyembelihan sangat diperlukan, baik oleh peternak maupun masyarakat yang membeli hewan kurban. Sikap proaktif dari semua pihak akan berdampak pada peningkatan kualitas dan keamanan pangan.
Kerjasama antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam memastikan kesehatan hewan kurban ini penting untuk diteruskan. Diharapkan, dalam setiap perayaan, masyarakat tidak hanya memperhatikan jumlah hewan yang disembelih, tetapi juga kualitas dari hewan tersebut.
Dinas terkait terus berupaya untuk meningkatkan program edukasi mengenai cara merawat dan memilih hewan kurban yang sehat. Program ini diharapkan dapat mengurangi jumlah hewan yang terinfeksi penyakit dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap daging yang mereka konsumsi.
Hal ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga kesehatan masyarakat secara keseluruhan, mengingat konsumsi daging yang aman sangat berpengaruh terhadap kesehatan individu dan komunitas.








