PT Metropolitan Land Tbk (Metland) mengumumkan strategi ekspansi yang bertahap meski dalam kondisi pasar properti yang dinamis. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026, perusahaan membagikan laporan kinerja yang stabil selama tahun buku 2025, sekaligus mengumumkan rencana pengembangan proyek baru termasuk penambahan hotel di Sulawesi Utara.
Tahun 2025, Metland berhasil mencatat pendapatan usaha mencapai Rp1,78 triliun. Labanya yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menunjukkan angka yang mengesankan, mencapai Rp412,93 miliar, mencerminkan kinerja finansial yang optimis.
Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk, Anhar Sudradjat, mengungkapkan bahwa stabilitas kinerja memang didorong oleh pendapatan berulang dan pengembangan proyek yang dilakukan secara selektif. Dalam keterangannya, ia juga menekankan pentingnya menjaga fundamental bisnis yang sehat.
“Melalui kontribusi dari pendapatan berulang ini dan strategi pengembangan yang selektif, kami tetap bisa menjaga kinerja yang stabil,” ujar Anhar pada konferensi pers.
Taktik dalam mendukung pertumbuhan perusahaan menjadi lebih terukur di tengah volatilitas pasar properti. Metland juga aktif dalam menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang terus berubah dan dinamis.
Pengumuman Pembagian Dividen dan Penyesuaian Direksi
Dalam agenda RUPST, pemegang saham memberikan persetujuan untuk pembagian dividen tunai sebesar 18% dari laba bersih, yang setara dengan Rp9,70 per lembar saham. Pembagian ini mencakup perolehan lebih dari 7,6 miliar lembar saham yang dimiliki para pemegang saham.
Selain itu, perusahaan juga menyiapkan dana cadangan sekitar Rp1 miliar, sementara sisa keuntungan akan dipertahankan sebagai laba ditahan guna mendukung pengembangan usaha di masa depan. Ini menunjukkan sikap prudent yang diambil Metland dalam mengelola investasi dan pertumbuhan.
Dalam rapat tersebut, terdapat juga keputusan penting berkaitan dengan perubahan susunan pengurus perusahaan untuk periode 2026-2031. Salah satu perubahan signifikan terjadi dalam posisi Komisaris Independen, di mana Lanny Bambang menggantikan Leland G. Rompas yang memilih untuk pensiun.
Sementara itu, Santoso resmi mundur dari jabatan Direktur perusahaan, yang memicu penyesuaian lebih lanjut dalam struktur kepemimpinan. Ini mencerminkan dinamika internal yang memang sering terjadi di perusahaan besar dan berpengaruh.
Pengembangan Hotel Metland di Sulawesi Utara
Salah satu fokus utama emiten properti ini adalah sektor perhotelan. Metland saat ini tengah mengembangkan Metland Marron Hotel Tomohon, yang diharapkan mulai beroperasi pada semester kedua 2026. Proyek ini menandai langkah awal diversifikasi Metland di luar pasar Jabodetabek.
Kota Tomohon dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan pariwisata, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kawasan Sulawesi Utara. Strategi ini diambil untuk menjawab kebutuhan akan akomodasi yang berkualitas di daerah yang tengah berkembang.
Dalam pengumuman sebelumnya, Anhar menggarisbawahi bahwa Tomohon menawarkan daya tarik wisata yang unik, termasuk udara yang sejuk dan berbagai potensi wisata berbasis budaya dan alam. Ini menjadikan hotel baru tersebut diharapkan menjadi ikon pariwisata Sulawesi Utara.
Metland Marron Hotel Tomohon akan dibangun dengan konsep resort yang menyatu dengan keindahan alam kota wisata tersebut. Proyek ini diharapkan menjadi destinas ideal bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Cluster Baru Meningkatkan Penjualan Residensial
Dalam segmen hunian, Metland melanjutkan inisiatif agresif untuk meluncurkan produk baru sesuai kebutuhan pasar. Beberapa proyek baru yang sedang dipasarkan termasuk cluster Neora di Metland Menteng, cluster Kertanata di Metland Kertajati, dan cluster Brassia Garden di Metland Cikarang.
Pemasaran cluster baru juga mencakup cluster Walden di Metland Transyogi, Barcelona Cove, dan South Tresor fase 2 di Metland Cyber Puri, hingga Havana Breeze di Metland Cibitung. Semua ini menunjukkan keberanian Metland dalam menghadapi tantangan pasar properti yang terus berubah.
Strategi peluncuran cluster dengan harga dan konsep yang lebih relevan terhadap kebutuhan pasar diyakini akan menjadi pendekatan utama pengembang. Pihak manajemen memahami pentingnya menyesuaikan produk dengan tren konsumen yang semakin sensitif terhadap aksesibilitas dan fasilitas kawasan.
Pembukaan G’AVEnue Grand Metropolitan Bekasi
Dari segi komersial, Metland resmi mengoperasikan G’AVEnue di Grand Metropolitan Bekasi pada 13 Februari 2026. Area ini mengusung konsep semi outdoor yang berfokus pada penyediaan tenant makanan dan minuman.
Kehadiran konsep lifestyle dan kuliner dalam pusat perbelanjaan adalah strategi yang agresif untuk meningkatkan kunjungan pengunjung dan memperpanjang waktu mereka berada di lokasi tersebut. Bekasi sebagai kawasan penyangga Jakarta, memiliki potensi besar untuk pertumbuhan populasi dan kebutuhan lifestyle yang signifikan.
Kondisi ini memberikan ruang bagi pengembangan sektor komersial berbasis gaya hidup untuk tetap tumbuh, meskipun terdapat tantangan di pasar properti. Keberadaan G’AVEnue diharapkan mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
Target Penjualan yang Ambisius Hampir Rp2 Triliun
Menjelang tahun 2026, perseroan menargetkan marketing sales yang berasal dari pre sales dan recurring revenue hampir mencapai Rp2 triliun. Angka yang ambisius ini menunjukkan optimisme Metland dalam menghadapi tahun yang akan datang.
Hingga bulan April 2026, perusahaan telah mencatat marketing sales sebesar Rp677 miliar, di mana 73% di antaranya berasal dari pre sales dan 27% dari recurring revenue. Distribusi yang seimbang ini mencerminkan keberhasilan strategi pemasaran yang diterapkan.
Menggabungkan pengembangan residensial, hotel, dan area komersial, Metland sepertinya tetap pada jalur untuk mempertahankan strategi ekspansi yang terukur. Diversifikasi pendapatan berulang menjadi faktor kunci di tengah iklim pasar properti yang penuh tantangan.









