Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk memperkenalkan Bahasa Prancis sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah negeri. Rencana ini diungkapkan dalam kunjungan kenegaraannya ke Paris pada tanggal 28 Mei, saat bertemu dengan pejabat tinggi setempat.
Tindakan ini menjadi sorotan, mengingat pentingnya pembelajaran bahasa asing di era global ini. Dukungan untuk pembelajaran bahasa asing, terutama Bahasa Prancis, akan membuka kesempatan bagi siswa untuk memahami dua budaya dan sistem pendidikan yang berbeda.
Kemendikdasmen selaku kementerian yang bertanggung jawab atas pendidikan di Indonesia, mendapatkan tanggapan dari Komisi X DPR yang berfokus pada bidang pendidikan. Mereka berencana untuk mengonfirmasi apakah rencana tersebut telah direncanakan dengan matang atau hanya sekadar retorika politik.
Pentingnya Perencanaan dalam Kebijakan Pendidikan
Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian, menekankan bahwa pernyataan Prabowo tidak boleh hanya menjadi bagian dari diplomasi tanpa adanya perencanaan konkret. Menurutnya, kebijakan pendidikan harus didasari oleh analisa yang mendalam mengenai kesiapan implementasinya.
“Penting bagi publik untuk melihat bahwa kebijakan ini memiliki dasar yang kuat dan bukan sekadar langkah simbolis,” ujar Lalu saat memberikan komentarnya. Ia juga menekankan bahwa setiap kebijakan dalam pendidikan harus dapat diimplementasikan secara efektif di Indonesia.
Crisis dalam perencanaan sistem pendidikan bukanlah hal baru di Indonesia. Implementasi sebelumnya, seperti rencana pengajaran Bahasa Portugis, juga belum terbukti efektif hingga saat ini, meskipun sudah diumumkan secara resmi.
Bahasa Asing dalam Kurikulum Pendidikan Indonesia
Saat ini, Bahasa Inggris menjadi bahasa asing yang dominante dalam kurikulum pendidikan Indonesia, khususnya pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK). Kebijakan ini akan diperluas, sehingga mulai tahun ajaran 2027/2028, Bahasa Inggris juga akan menjadi mata pelajaran wajib di tingkat Sekolah Dasar (SD).
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, dalam acara konferensi internasional TEFLIN, menekankan pentingnya kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal siswa untuk bersaing di kancah global. Sementara itu, upaya peningkatan kemampuan berbahasa asing lainnya, seperti Bahasa Prancis, sebagai tambahan, akan meminta perhatian khusus.
Namun, pengajaran bahasa asing tidak bisa dimasukkan begitu saja tanpa adanya analisis mendalam mengenai kurikulum, kebutuhan tenaga pendidik, serta manfaat jangka panjang bagi para siswa. Hal ini sering kali mengakibatkan kesenjangan antara kebijakan dan praktik di lapangan.
Menimbang Efektivitas Pengajaran Bahasa Asing
Lalu menyarankan agar pengajaran bahasa asing dilakukan secara bertahap dan menjadi pilihan mata pelajaran. “Jika kesiapan untuk pengajaran bahasa asing belum optimal, mungkin bisa dibuat sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah tertentu,” ujarnya.
Dengan demikian, siswa yang berminat dapat mengambil mata pelajaran tersebut, tanpa membebani sekolah dan tenaga pendidik yang belum siap. Hal ini dapat memberikan keleluasaan bagi setiap sekolah untuk merencanakan pengajaran bahasa asing secara efektif.
Lebih jauh, Lalu juga berharap bahwa inisiatif ini tidak menjadi sekadar langkah untuk menarik perhatian di tingkat internasional. Pelaksanaan yang efektif dan berkelanjutan adalah kunci dalam membangun generasi yang mampu bersaing di kancah global.
Penguatan Hubungan Antarbangsa Melalui Pendidikan
Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan harapannya agar hubungan antara Indonesia dan Prancis dapat lebih diperkuat di bidang pendidikan dan teknologi. Tindakan di bidang pendidikan juga diharapkan mampu menjembatani hubungan bilateral yang lebih akurat dan bermanfaat bagi kedua negara.
“Indonesia dan Prancis memiliki banyak kesamaan dalam visi serta tujuan, terutama di era yang penuh tantangan ini. Pendidikan adalah aspek fundamental untuk mencapai visi tersebut,” ujar Prabowo saat memberikan pandangannya.
Kemitraan strategis dalam pendidikan, termasuk pengajaran bahasa asing, diharapkan dapat menciptakan lingkaran positif bagi pertukaran budaya dan pemahaman antarnegara. Adopsi bahasa asing dalam kurikulum adalah langkah awal menuju pencapaian tersebut.








