Di Makassar, Sulawesi Selatan, sebuah kasus yang sangat mengkhawatirkan terjadi, melibatkan seorang lelaki bernama Feri Bin Dg Rumpa (33) yang melakukan penyekapan dan pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi. Korban, yang diduga tertipu oleh tawaran pekerjaan sebagai pengasuh, mengalami pengalaman traumatis yang tak terbayangkan ketika pelaku mengancamnya dengan pisau cutter dan melakukan kekerasan.
Aksi keji ini terjadi ketika korban menunggu untuk dipekerjakan. Pelaku menggunakan taktik yang sangat mencolok untuk mendapatkan kepercayaan korban, namun akhirnya terungkap bahwa niatnya jauh dari baik.
Menurut keterangan kepolisian, korban diancam, ditutup mata dan mulutnya menggunakan lakban sebelum pelaku melancarkan aksinya. Hal ini menunjukkan betapa rentannya posisi korban yang hanya mencari pekerjaan untuk membiayai kuliahnya.
Arya Perdana, Kapolrestabes Makassar, menjelaskan bahwa kejadian ini berlangsung pada hari ketiga korban berada di rumah yang disewa pelaku. Penggunaan senjata tajam sebagai alat ancaman membuat korban tidak bisa melawan.
Korban disekap dan diperkosa beberapa kali selama terkurung. Pelaku mengelabui korban dengan menjanjikan pekerjaan yang ternyata tidak ada.
Modus Operandi Pelaku dalam Menipu Korban
Menurut pihak kepolisian, pelaku awalnya menjanjikan pekerjaan kepada korban sebagai baby sitter melalui sebuah iklan di media sosial. Korban yang datang untuk melamar tersebut terjebak dalam rencana jahat pelaku yang sebenarnya hanya memiliki niat untuk mengeksploitasi.
Setelah menjelaskan bahwa korban harus menunggu beberapa hari sebelum dipekerjakan, pelaku memperdaya korban dengan menyuruhnya untuk bekerja di rumahnya sebagai pembantu, yang sebenarnya adalah bagian dari rencananya. Selama lebih dari dua hari, korban dipaksa bekerja tanpa imbalan yang jelas, sebelum akhirnya mengalami penyekapan.
Arya menyampaikan bahwa rumah tempat terjadinya perbuatan keji itu disewa pelaku secara harian dengan biaya Rp 300 ribu. Hal ini menunjukkan bagaimana pelaku memilih tempat yang strategis untuk menjalankan aksinya tanpa terdeteksi.
Rincian Kejadian Penyekapan dan Pemerkosaan
Kejadian penangkapan terjadi di kompleks perumahan yang sepi, tepatnya di Jalan Metro Tanjung Bunga. Di sinilah pelaku melakukan aksi jahatnya, mengunci korban agar tidak melakukan perlawanan. Pelaku harus berhadapan dengan hukum setelah masyarakat sekitar menemukan korban dalam kondisi mengenaskan.
Warga yang curiga maupun mendengar teriakan segera melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Ketika pihak berwenang tiba, mereka menemukan korban dalam kondisi terikat, dan segera mengevakuasinya. Keberanian masyarakat untuk bertindak dapat menyelamatkan korban yang mengalami trauma mendalam.
Setelah dilakukan penangkapan, pelaku berhasil ditangkap di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada hari Sabtu. Ini menunjukkan bagaimana upaya penegakan hukum tidak mengenal batasan, dengan penangkapan dilakukan meskipun pelaku berusaha melarikan diri ke kota jauh.
Aspek Psikologis dan Sosial dari Kasus Pemerkosaan
Kasus ini bukan hanya mengenai tindakan kriminal yang dilakukan, tetapi juga dampak psikologis yang dialami korban. Trauma yang dihasilkan dari aksi kekerasan seksual berdampak jangka panjang, dan bisa mempengaruhi kehidupan korban secara keseluruhan.
Dalam banyak kasus, korban pemerkosaan mengalami kesulitan dalam mengatasi pengalaman memilukan tersebut. Mereka bisa merasa teralienasi dan kehilangan kepercayaan diri, yang bisa memengaruhi hubungan mereka dengan orang lain, bahkan dalam keluarga.
Situasi ini juga menunjukkan betapa pentingnya dukungan sosial dalam mengatasi trauma. Masyarakat perlu lebih peka dan peduli terhadap kondisi yang dihadapi korban, serta menyediakan ruang bagi mereka untuk menceritakan pengalaman mereka tanpa stigma.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Kejahatan Seksual
Kasus seperti ini mengingatkan kita untuk meningkatkan kesadaran akan kejahatan seksual yang semakin marak terjadi. Banyak orang menjadi target oleh pelaku yang cerdas dalam menipu dan memanfaatkan situasi, terutama terhadap mereka yang sedang dalam kesulitan ekonomi.
Kesadaran akan modus operandi yang digunakan pelaku dapat membantu masyarakat lebih waspada. Informasi mengenai tips aman dalam melamar pekerjaan bisa disampaikan melalui berbagai media agar lebih banyak orang yang mendapat edukasi tentang risiko yang mungkin mereka hadapi.
Pendidikan tentang kesetaraan gender dan hak-hak wanita juga merupakan langkah penting dalam menanggulangi tindakan keji seperti ini. Masyarakat dan pemerintah perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi semua individu.









